Mengapa Kita Mengenal Tujuh Hari?

  • 21 Agt 2026 19:43 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Tujuh hari sudah menjadi bagian yang begitu akrab dalam kehidupan sehingga asal-usulnya sering kali tidak lagi dipertanyakan. Padahal, pembagian waktu dalam satu pekan menjadi tujuh hari tidak muncul karena alam secara otomatis menetapkan jumlah tersebut.

Penelitian berjudul “The Seven-Day Week in the Roman Empire: Origins, Standardization, and Diffusion” dalam Calendars in the Making menjelaskan bahwa konsep pekan tujuh hari memiliki sejarah yang cukup panjang dan tidak berasal dari satu tradisi saja. Ilaria Bultrighini dan Sacha Stern menemukan adanya dua perkembangan yang pada awalnya berjalan secara terpisah. Salah satunya adalah tradisi pekan Sabat dalam masyarakat Yahudi, sementara yang lainnya berkaitan dengan sistem astrologi yang memberikan nama hari berdasarkan benda-benda langit. Dalam perkembangannya, kedua tradisi tersebut bertemu dan turut membentuk cara masyarakat mengorganisasi waktu. Penggunaan pekan tujuh hari dalam sistem penanggalan mulai menunjukkan bukti yang lebih kuat pada abad pertama sebelum Masehi. Setelah itu, sistem tersebut semakin menyebar di wilayah Kekaisaran Romawi dan memperoleh kedudukan yang lebih kuat seiring perubahan kehidupan keagamaan masyarakat.

Sementara itu, penelitian “Thursday (Dies Iovis) in the Later Roman Empire” yang dimuat dalam Papers of the British School at Rome menunjukkan bahwa penerimaan pekan tujuh hari di Romawi berlangsung secara perlahan. Jejak penggunaan sistem pekan yang berkaitan dengan benda langit telah ditemukan di Italia sejak paruh kedua abad pertama sebelum Masehi. Penggunaannya kemudian terus berkembang hingga akhirnya pada abad keempat menjadi sesuatu yang lazim di berbagai wilayah Kekaisaran Romawi. Perkembangan Kekristenan juga memberikan pengaruh terhadap keberlanjutan sistem tersebut dalam kehidupan masyarakat dan pengaturan waktu.

Artinya, jumlah tujuh pada satu pekan tidak lahir dari satu keputusan atau alasan yang berdiri sendiri. Sistem tersebut terbentuk melalui proses sejarah yang melibatkan kepercayaan keagamaan, pengamatan terhadap langit, kebiasaan masyarakat, hingga penyebaran dan penyeragaman sistem penanggalan. Setelah melewati perjalanan panjang tersebut, pekan tujuh hari akhirnya menjadi cara yang sangat umum untuk membagi dan mengatur waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....