Amankah Mengonsumsi Ikan Asin?
- 08 Agt 2026 18:19 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Ikan asin telah lama menjadi salah satu lauk yang banyak dikonsumsi karena rasanya yang gurih dan daya simpannya yang relatif panjang. Selain menjadi sumber protein, makanan ini juga mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi akibat proses pengawetan menggunakan garam, sehingga konsumsinya perlu diperhatikan.
Penggunaan garam sebagai metode pengawetan efektif menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan membantu menjaga kualitas ikan selama penyimpanan. Namun, asupan natrium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada sebagian orang. Selain itu, beberapa teknik pengolahan tertentu diketahui berpotensi menghasilkan senyawa nitrosamin, yaitu senyawa yang telah lama menjadi perhatian dalam penelitian mengenai risiko kanker.
Kajian yang diterbitkan dalam jurnal Food-Borne Chemical Carcinogens and the Evidence for Human Cancer Risk di Nutrients menjelaskan bahwa beberapa jenis ikan asin bergaya Tiongkok (Chinese-style salted fish) dapat mengandung senyawa N-nitrosamin yang terbentuk selama proses pengolahan. Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengklasifikasikan Chinese-style salted fish sebagai karsinogen Grup 1 karena berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker nasofaring pada manusia. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa klasifikasi tersebut tidak berlaku untuk seluruh jenis ikan asin, sebab setiap produk dapat memiliki metode pengolahan dan kandungan senyawa yang berbeda.
Temuan lain yang dipublikasikan dalam jurnal Nasopharyngeal Carcinoma (NPC) Risk Factors: A Systematic Review and Meta-Analysis of the Association with Lifestyle, Diets, Socioeconomic and Sociodemographic in Asian Region juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi ikan asin dan peningkatan risiko kanker nasofaring. Melalui analisis terhadap sejumlah penelitian di kawasan Asia, peneliti memperoleh nilai odds ratio gabungan sebesar 1,41. Kajian tersebut menyebutkan bahwa hubungan ini diduga berkaitan dengan keberadaan nitrosamin yang dapat terbentuk selama proses pengawetan. Namun demikian, risiko kanker nasofaring tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan. Faktor lain, seperti infeksi virus Epstein-Barr, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta faktor genetik juga memiliki kontribusi terhadap munculnya penyakit tersebut.
Konsumsi ikan asin tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari apabila dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Mengombinasikannya dengan makanan bergizi seperti sayuran dan buah-buahan, sekaligus membatasi konsumsi pangan tinggi garam lainnya, dapat membantu menjaga keseimbangan asupan natrium. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi langkah terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mengurangi risiko berbagai masalah kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....