Mengapa Orang Mudah Menyindir di Medsos?
- 08 Agt 2026 18:17 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Media sosial telah menjadi ruang bagi banyak orang untuk berbagi pendapat sekaligus meluapkan emosi. Tidak sedikit pengguna yang mengekspresikan rasa kesal, kecewa, atau frustrasi melalui komentar maupun unggahan bernada sinis. Sikap yang kerap disebut sebagai "bitter" ini ternyata dipengaruhi oleh faktor psikologis serta karakteristik komunikasi di ruang digital.
Berbeda dengan percakapan tatap muka, interaksi di media sosial berlangsung tanpa ekspresi wajah, intonasi suara, maupun bahasa tubuh yang dapat membantu memahami maksud lawan bicara. Kondisi tersebut membuat sebagian orang lebih mudah bereaksi secara impulsif dan mengungkapkan emosi negatif dibandingkan ketika berkomunikasi secara langsung.
Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Online Disinhibition Mediates the Relationship Between Emotion Regulation Difficulties and Uncivil Communication di Scientific Reports mengungkapkan bahwa kesulitan dalam mengelola emosi berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan melakukan komunikasi yang tidak santun di media sosial. Penelitian terhadap 215 pengguna internet menunjukkan bahwa individu yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang rendah lebih rentan mengalami online disinhibition, yaitu berkurangnya hambatan psikologis untuk melontarkan perkataan kasar, sindiran, atau serangan verbal ketika berada di dunia maya. Peneliti menjelaskan bahwa anonimitas, jarak emosional dengan lawan bicara, serta minimnya petunjuk sosial membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif dibandingkan saat berkomunikasi secara tatap muka.
Temuan lain yang dipublikasikan dalam jurnal Self-control in Online Discussions: Disinhibited Online Behavior as a Failure to Recognize Social Cues di PLOS ONE juga menunjukkan bahwa perilaku negatif di internet berkaitan dengan menurunnya kemampuan memahami isyarat sosial. Melalui eksperimen psikologi, peneliti menemukan bahwa ketika pengendalian diri melemah, seseorang menjadi kurang mempertimbangkan dampak ucapannya terhadap orang lain. Akibatnya, komentar yang bernada menghina, mengejek, atau merendahkan lebih mudah muncul dalam percakapan daring. Penelitian tersebut menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan diri tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas komunikasi, baik di ruang digital maupun saat berinteraksi secara langsung.
Hasil dari kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan bersikap sinis atau mudah terpancing emosi di media sosial tidak hanya dipengaruhi oleh karakter individu. Kemampuan mengatur emosi, menjaga kontrol diri, serta karakteristik lingkungan digital turut membentuk cara seseorang menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, membangun empati, mempertimbangkan dampak sebelum menulis komentar, dan menyadari bahwa setiap akun mewakili manusia nyata menjadi langkah penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat, santun, dan saling menghormati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....