Memahami Perjalanan Penyintas Trauma
- 23 Jul 2026 15:45 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Peristiwa yang meninggalkan luka batin dapat membawa pengaruh jangka panjang terhadap kehidupan seseorang. Namun, cara setiap individu menghadapi dan bangkit dari trauma tidak pernah sama. Ada yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk kembali menjalani hidup dengan nyaman, sementara ada pula yang perlahan menemukan sudut pandang baru setelah melalui masa-masa sulit tersebut.
Luka psikologis dapat muncul akibat berbagai situasi, mulai dari kekerasan, bencana, kecelakaan, kehilangan orang yang dicintai, hingga kejadian yang mengancam keselamatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam bentuk tekanan emosional, tetapi juga dapat memengaruhi cara berpikir, mengendalikan perasaan, mempercayai orang lain, serta menjalankan aktivitas sehari-hari. Bertahan setelah mengalami trauma bukan berarti rasa sakit telah sepenuhnya menghilang, melainkan menunjukkan adanya usaha untuk terus melangkah sambil menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Publikasi ilmiah berjudul Empirically Derived Patterns of Posttraumatic Stress and Growth: A Systematic Review dalam Trauma, Violence, & Abuse menjelaskan bahwa respons terhadap trauma sangat beragam. Berdasarkan telaah terhadap tujuh penelitian yang melibatkan 6.776 partisipan, ditemukan bahwa sebagian individu mengalami gejala stres pascatrauma yang cukup berat, sebagian lainnya justru menunjukkan pertumbuhan psikologis setelah melewati peristiwa traumatis atau posttraumatic growth, sedangkan kelompok lain mengalami kedua kondisi tersebut secara bersamaan. Kajian ini juga menunjukkan bahwa kehadiran orang-orang yang memberikan perhatian dan bantuan berkaitan dengan meningkatnya peluang munculnya perubahan positif, seperti rasa syukur yang lebih besar terhadap kehidupan, hubungan interpersonal yang semakin baik, serta keyakinan diri yang lebih kuat.
Gambaran serupa dipaparkan dalam artikel Mapping the Relationship Between Post-Traumatic Stress and Post-Traumatic Growth and the Mediating Role of Resilience yang diterbitkan dalam Health & Social Care in the Community. Kajian tersebut menyoroti pentingnya resiliensi sebagai kemampuan untuk beradaptasi ketika menghadapi tekanan hidup yang berat. Kemampuan ini membantu seseorang mengurangi dampak stres pascatrauma sekaligus membuka peluang munculnya perkembangan positif. Penulis menjelaskan bahwa bertumbuh setelah mengalami trauma bukan berarti melupakan masa lalu, melainkan mampu menerima kenyataan yang pernah dialami sambil membangun arah kehidupan yang baru.
Perjalanan menuju kondisi yang lebih baik membutuhkan waktu yang berbeda pada setiap orang. Tidak ada ukuran yang sama mengenai seberapa cepat seseorang dapat bangkit dari luka batin. Kehadiran keluarga, sahabat, tenaga profesional, dan lingkungan yang memberikan rasa aman dapat menjadi sumber kekuatan dalam menjalani setiap tahap pemulihan. Yang terpenting, tidak seorang pun harus memikul beban tersebut sendirian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....