Adaptasi Tubuh di Zona Waktu Baru

  • 23 Jul 2026 15:53 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Perjalanan jauh yang melintasi beberapa zona waktu sering membuat waktu tidur menjadi tidak menentu. Walaupun durasi istirahat tetap terpenuhi, tubuh belum tentu langsung merasa segar karena sistem biologis memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan perbedaan waktu di tempat tujuan.

Di dalam tubuh terdapat sebuah mekanisme alami yang mengatur kapan seseorang merasa mengantuk, bangun, serta mengendalikan suhu tubuh, pelepasan hormon, dan fungsi fisiologis lainnya selama kurang lebih 24 jam. Mekanisme ini sangat dipengaruhi oleh siklus terang dan gelap. Saat seseorang berpindah ke wilayah dengan waktu yang berbeda, tubuh masih mengikuti pola waktu dari tempat asal sehingga muncul kondisi yang dikenal sebagai jet lag. Akibatnya, rasa kantuk dapat muncul pada siang hari atau seseorang justru sulit terlelap pada malam hari meskipun sudah memiliki waktu tidur yang cukup.

Artikel berjudul Jet Lag Syndrome: Circadian Organization, Pathophysiology, and Management Strategies yang dipublikasikan dalam Nature and Science of Sleep menguraikan bahwa jet lag terjadi karena jam biologis belum selaras dengan waktu lokal setelah perjalanan lintas zona waktu. Dampaknya tidak hanya mengganggu jadwal tidur, tetapi juga memengaruhi kualitas istirahat, tingkat kewaspadaan, metabolisme, sistem pencernaan, hingga suasana hati. Penulis menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan masa penyesuaian agar kembali mengikuti siklus siang dan malam di lingkungan yang baru. Paparan sinar matahari pada waktu yang tepat serta kebiasaan tidur yang konsisten dapat membantu mempercepat adaptasi tersebut.

Pembahasan yang sejalan dimuat dalam Circadian Rhythm Sleep Disorders: Part I, Basic Principles, Shift Work and Jet Lag Disorders yang diterbitkan dalam Sleep. Artikel tersebut menjelaskan bahwa kecepatan tubuh menyesuaikan diri dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain jumlah zona waktu yang dilintasi, arah perjalanan, kualitas tidur selama bepergian, paparan cahaya setelah tiba di tujuan, serta kondisi biologis masing-masing individu. Karena alasan itu, seseorang masih dapat merasakan kelelahan walaupun telah tidur selama tujuh hingga delapan jam apabila jam biologisnya belum sepenuhnya mengikuti waktu setempat.

Kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang memejamkan mata. Keselarasan antara waktu istirahat dan jam biologis memiliki peran besar dalam memulihkan kondisi tubuh. Setelah beberapa hari berada di lingkungan baru, tubuh umumnya akan menyesuaikan diri secara bertahap sehingga pola tidur kembali stabil dan rasa lelah akibat perbedaan zona waktu perlahan berkurang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....