Batas Tipis Perhatian dan Pengendalian

  • 21 Jul 2026 20:54 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Luka dalam sebuah hubungan tidak selalu terlihat secara fisik. Ada bentuk kekerasan yang muncul melalui perilaku mengendalikan pasangan secara terus-menerus, misalnya membatasi pergaulan, memantau aktivitas sehari-hari, memberikan ancaman, atau mengatur hampir seluruh keputusan dalam hidup korban. Pola seperti ini dikenal sebagai coercive control atau kontrol koersif.

Kontrol koersif merupakan tindakan yang dilakukan secara berulang dengan tujuan mengambil alih kendali atas kehidupan pasangan. Pelaku dapat mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya, membatasi akses terhadap keuangan, menentukan cara berpakaian, mengawasi setiap aktivitas, hingga membuat korban merasa takut untuk bertindak tanpa persetujuannya. Karena berlangsung perlahan dan sering dianggap sebagai bentuk perhatian, banyak korban tidak segera menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan dalam hubungan.

Artikel ilmiah berjudul Toward a Standard Approach to Operationalizing Coercive Control and Classifying Violence Types yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family menjelaskan bahwa kontrol koersif merupakan karakteristik utama yang membedakan kekerasan yang bersifat sesaat dengan kekerasan yang bertujuan mendominasi pasangan. Pelaku tidak hanya mengandalkan kekerasan fisik, tetapi juga menggunakan pola intimidasi, ancaman, isolasi sosial, dominasi, serta pengawasan yang dilakukan secara terus-menerus untuk mengurangi kebebasan korban. Penulis menekankan bahwa kontrol koersif lebih tepat dipahami sebagai rangkaian perilaku yang berulang daripada satu tindakan yang berdiri sendiri.

Kesimpulan serupa disampaikan dalam artikel The Trauma and Mental Health Impacts of Coercive Control: A Systematic Review and Meta-Analysis yang dipublikasikan dalam Trauma, Violence, & Abuse. Setelah menganalisis 68 penelitian, penulis menemukan bahwa pengalaman hidup di bawah kontrol koersif berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan depresi. Besarnya dampak psikologis yang dialami korban bahkan dapat menyamai akibat dari bentuk kekerasan pasangan lainnya. Oleh karena itu, penanganan terhadap korban tidak cukup hanya menghentikan tindakan kekerasan, tetapi juga perlu memberikan dukungan yang berfokus pada pemulihan trauma dan kesehatan mental.

Kontrol koersif menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu tampak secara kasatmata. Memahami tanda-tandanya sejak awal, menghargai kebebasan pasangan, menjaga komunikasi yang sehat, serta membangun hubungan yang dilandasi rasa saling percaya dan saling menghormati merupakan langkah penting untuk mencegah kekerasan yang sering tersembunyi di balik kedekatan emosional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....