Manusia Bisa Ucap "F" Berkat Pertanian

  • 07 Jul 2026 20:42 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Huruf "f" dan "v" mungkin terdengar biasa dalam percakapan sehari-hari. Namun, di balik bunyi tersebut terdapat kisah evolusi yang berkaitan dengan perubahan pola makan manusia sejak ribuan tahun lalu. Para ilmuwan menemukan bahwa kemampuan mengucapkan kedua bunyi itu kemungkinan semakin berkembang setelah manusia mulai hidup dengan sistem pertanian.

Sebelum mengenal bercocok tanam, manusia mengandalkan hasil berburu dan meramu sebagai sumber makanan. Daging, umbi-umbian, serta biji-bijian yang masih keras membuat aktivitas mengunyah berlangsung lebih berat sehingga susunan gigi orang dewasa umumnya bertemu tepat di bagian ujung. Kondisi ini mulai berubah setelah masyarakat mengembangkan teknik bertani, menggiling biji-bijian, memasak makanan yang lebih lembut, dan mengolah produk susu. Perubahan tersebut membuat posisi gigi atas pada banyak orang tetap sedikit lebih maju daripada gigi bawah atau overbite hingga dewasa.

Dalam jurnal Human Sound Systems Are Shaped by Post-Neolithic Changes in Bite Configuration yang diterbitkan di Science, tim peneliti yang dipimpin Damián E. Blasi menjelaskan adanya hubungan antara perubahan bentuk gigitan dengan perkembangan bunyi bahasa. Penelitian ini memadukan data paleoantropologi, linguistik historis, biomekanika bicara, dan etnografi. Berdasarkan simulasi komputer, susunan gigi dengan overbite membuat pengucapan bunyi labiodental, yaitu bunyi yang dihasilkan dari pertemuan bibir bawah dan gigi atas seperti "f" serta "v", membutuhkan energi sekitar 29 persen lebih rendah dibandingkan susunan gigi yang sejajar. Analisis terhadap ribuan bahasa juga menunjukkan bahwa bunyi tersebut jauh lebih jarang ditemukan pada masyarakat pemburu-pengumpul dibandingkan kelompok yang telah mengenal pertanian.

Temuan serupa dipaparkan dalam jurnal Inferring Recent Evolutionary Changes in Speech Sounds yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B. Analisis terhadap ribuan bahasa di berbagai wilayah menunjukkan bahwa bunyi labiodental semakin banyak digunakan dalam beberapa ribu tahun terakhir. Kajian tersebut mengindikasikan bahwa perubahan pola konsumsi setelah berkembangnya pertanian menciptakan kondisi anatomi yang lebih mendukung pengucapan bunyi "f" dan "v". Meski demikian, penyebaran bunyi tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan sejarah bahasa dan interaksi antarwilayah.

Berbagai hasil kajian ini memperlihatkan bahwa evolusi bahasa dipengaruhi oleh lebih dari sekadar budaya atau kebiasaan berbicara. Perubahan cara manusia memperoleh dan mengolah makanan turut memengaruhi bentuk rahang serta susunan gigi, yang pada akhirnya ikut berperan dalam berkembangnya bunyi-bunyi tertentu yang kini digunakan dalam banyak bahasa di dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....