Bercerita Bukan Sekadar Kebiasaan
- 30 Jun 2026 11:13 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Tidak semua pengalaman yang dialami seseorang akan diceritakan kepada orang lain. Ada peristiwa yang mudah dibagikan, tetapi ada pula yang tetap disimpan sebagai cerita pribadi meskipun memiliki makna yang mendalam.
Keputusan untuk bercerita ternyata tidak hanya ditentukan oleh kedekatan dengan lawan bicara. Sebelum seseorang membagikan sebuah pengalaman, otak melakukan berbagai pertimbangan dalam waktu singkat. Tidak hanya isi cerita yang dinilai, tetapi juga apakah informasi tersebut akan berguna, relevan, atau layak diketahui oleh orang lain.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Three Diverse Motives for Information Sharing di Communications Psychology mengungkap bahwa ada beberapa alasan utama yang mendorong seseorang membagikan informasi. Melalui serangkaian eksperimen terhadap lebih dari 200 partisipan, peneliti dari University College London dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa keputusan untuk berbagi dipengaruhi oleh manfaat informasi bagi penerima, sifat informasi tersebut, serta kebutuhan penerima terhadap informasi yang akan disampaikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki motivasi yang berbeda. Sebagian terdorong untuk membantu orang lain mengambil keputusan, sebagian lebih suka menyampaikan kabar yang menyenangkan, sedangkan yang lain memilih berbagi hanya jika merasa informasi tersebut benar-benar diperlukan.
Hal serupa dijelaskan dalam jurnal Considering Information-Sharing Motives to Reduce Misinformation yang diterbitkan di Current Opinion in Psychology. Kajian ini menyebutkan bahwa seseorang sering membagikan informasi karena berharap dapat memberikan manfaat bagi orang lain atau memperoleh respons sosial, seperti perhatian, dukungan, maupun pengakuan. Peneliti juga menilai bahwa memahami alasan di balik kebiasaan berbagi informasi dapat membantu menekan penyebaran informasi yang keliru, terutama di media sosial, karena mendorong seseorang untuk mempertimbangkan nilai guna dan keakuratan informasi sebelum membagikannya.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk bercerita bukanlah tindakan yang sepenuhnya spontan. Otak secara otomatis mempertimbangkan berbagai hal sebelum seseorang membuka pengalaman pribadinya kepada orang lain. Oleh karena itu, tidak semua pengalaman yang dimiliki seseorang akan berubah menjadi sebuah cerita yang dibagikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....