Antrean Lima Menit, Rasanya Setengah Jam
- 07 Jun 2026 19:38 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Lima menit menunggu dalam antrean sering kali terasa lebih panjang dibandingkan lima menit yang dihabiskan untuk mengobrol dengan teman atau menonton video. Padahal, waktu yang berlalu sebenarnya sama. Perbedaan ini muncul karena cara otak manusia memersepsikan waktu tidak selalu sejalan dengan hitungan jam.
Saat seseorang merasa bosan, cemas, gelisah, atau terus-menerus memperhatikan lamanya menunggu, otak akan lebih fokus pada perjalanan waktu itu sendiri. Akibatnya, waktu terasa berjalan lebih lambat sehingga proses menunggu tampak lebih lama daripada durasi yang sesungguhnya.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Psychological Time as Information: The Case of Boredom yang diterbitkan oleh Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa kebosanan berperan besar dalam membentuk persepsi waktu. Dan Zakay menemukan bahwa dalam situasi yang kurang menarik, perhatian seseorang cenderung terpusat pada berjalannya waktu. Kondisi tersebut membuat waktu terasa melambat dan durasi menunggu dipandang lebih panjang dari kenyataannya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa rasa bosan dapat menurunkan kenyamanan serta memengaruhi penilaian seseorang terhadap pengalaman yang sedang dialami.
Hasil penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Patients’ Time Perception in the Waiting Room of an Ambulatory Emergency Unit: A Cross-Sectional Study menunjukkan bahwa persepsi terhadap waktu tunggu dipengaruhi oleh lebih banyak faktor daripada sekadar durasi antrean. Studi yang melibatkan 509 pasien di Swiss menemukan bahwa kurangnya informasi, ketidakpastian, serta perasaan tidak diperhatikan dapat membuat seseorang merasa menunggu lebih lama. Peneliti juga mengemukakan konsep "golden hour", yaitu batas waktu tertentu ketika proses menunggu masih dapat diterima dengan nyaman sebelum mulai menimbulkan ketidakpuasan.
Di sisi lain, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Psychology of the Wait Time Experience mengungkap bahwa pengalaman menunggu dapat menjadi lebih positif jika seseorang mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang sedang terjadi. Studi tersebut menemukan bahwa ketidakjelasan sering kali lebih mengganggu daripada panjangnya waktu tunggu itu sendiri. Ketika orang memahami alasan keterlambatan dan mengetahui perkiraan waktu pelayanan, mereka cenderung merasa lebih puas meskipun harus menunggu lebih lama.
Itulah sebabnya antrean sering terasa tidak kunjung bergerak meskipun waktu yang berlalu sebenarnya tidak terlalu lama. Fenomena ini bukan disebabkan oleh waktu yang berjalan lebih lambat, melainkan oleh cara otak mengolah kebosanan, ketidakpastian, dan perhatian terhadap waktu selama proses menunggu berlangsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....