Rahasia Menyeduh Kopi yang Lebih Sehat Aman untuk Tubuh

  • 05 Jun 2026 20:13 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Kopi masih menjadi salah satu minuman paling populer di berbagai kalangan, termasuk para pekerja kantoran. Selain dikenal karena cita rasanya yang khas, kopi juga kerap menjadi andalan untuk meningkatkan semangat dan fokus di pagi hari maupun saat menjalani aktivitas padat.

Namun, di tengah kesibukan, banyak orang memilih kopi instan atau kopi sachet karena dianggap lebih praktis. Sayangnya, kopi instan umumnya tidak sepenuhnya berasal dari biji kopi pilihan dan sering mengandung campuran bahan tambahan, baik alami maupun kimia. Kondisi ini pada sebagian orang dapat memicu keluhan seperti kembung atau gangguan lambung.

Seiring meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, mulai banyak anjuran untuk menikmati kopi dengan cara yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan memilih biji kopi segar yang digiling sendiri atau meminta digilingkan di toko agar tetap terjaga kesegarannya.

Proses penyeduhan juga berpengaruh terhadap kualitas kopi. Air yang digunakan sebaiknya tidak terlalu panas, dengan suhu ideal sekitar 90–96 derajat Celsius. Jika tidak memiliki termometer, air yang telah mendidih dapat didiamkan selama 1–2 menit sebelum digunakan. Waktu seduh yang disarankan sekitar 4 menit untuk menghasilkan cita rasa optimal.

Selain itu, penggunaan kertas saring juga dianjurkan karena dapat membantu menahan senyawa cafestol yang diketahui berpotensi meningkatkan kadar kolesterol. Konsumsi kopi pun sebaiknya dibatasi, yakni sekitar 2–3 cangkir per hari. Untuk pemanis, disarankan tidak berlebihan agar karakter rasa asli kopi tetap terjaga.

Meskipun kopi instan masih menjadi pilihan praktis bagi banyak orang, konsumsi kopi dari biji segar dinilai lebih baik untuk kesehatan jika dilakukan dengan cara penyeduhan yang tepat. Perlahan mengurangi konsumsi kopi instan dan beralih ke kopi yang lebih alami dapat menjadi langkah sederhana menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Kopi tidak hanya sekadar minuman sehari-hari, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya dan penunjang produktivitas, terutama bagi masyarakat usia produktif yang membutuhkan dorongan energi dalam menjalani aktivitas harian.

(Sumber: www.djkn.kemenkeu.go.id)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....