Kucing dan Toksoplasmosis Fakta di Balik Mitos Bulu Kucing
- 21 Mei 2026 15:06 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Masyarakat sering kali menganggap bulu kucing sebagai sumber berbagai penyakit, termasuk penyebab kemandulan pada wanita. Namun, anggapan tersebut merupakan mitos yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Faktanya, bahaya utama yang perlu diwaspadai bukan berasal dari bulu kucing, melainkan dari parasit Toxoplasma gondii yang menyebabkan penyakit toksoplasmosis. Parasit ini hidup di dalam usus kucing dan dapat dikeluarkan melalui kotoran atau feses, bukan melalui bulu.
Kucing dapat terinfeksi parasit ini ketika berinteraksi dengan lingkungan luar, seperti tanah, rumput, atau saat memangsa hewan kecil seperti tikus yang telah terinfeksi. Setelah terinfeksi, kucing dapat menjadi inang definitif, tempat parasit berkembang biak dan kemudian menyebar melalui tinjanya.
Toksoplasmosis sendiri merupakan infeksi yang dapat menyerang manusia dan hewan. Pada manusia, gejalanya sering menyerupai flu ringan, seperti demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.
Meski tampak ringan, infeksi ini dapat berbahaya bagi kelompok tertentu, terutama ibu hamil. Jika terjadi infeksi saat kehamilan atau beberapa bulan sebelum kehamilan, parasit dapat menembus plasenta dan menyebabkan gangguan serius pada janin, seperti kelainan mata, gangguan otak, hingga kelahiran prematur.
Pada bayi yang terinfeksi, dampaknya dapat meliputi gangguan saraf, keterlambatan perkembangan, kejang, gangguan penglihatan, hingga kelainan organ seperti pembesaran hati dan limpa. Dalam kasus berat, toksoplasmosis bahkan dapat menyebabkan cacat bawaan serius.
Meski demikian, penularan tidak terjadi melalui bulu kucing. Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan kotoran kucing yang terkontaminasi atau makanan dan lingkungan yang tercemar parasit.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung menyalahkan bulu kucing sebagai sumber penyakit. Fokus pencegahan yang tepat adalah menjaga kebersihan diri, mencuci tangan setelah kontak dengan hewan, serta membersihkan kotoran kucing secara rutin dengan cara yang aman.
Dengan pemahaman yang benar, masyarakat dapat tetap memelihara kucing dengan aman tanpa harus khawatir berlebihan terhadap mitos yang beredar.
(Sumber:kemkes.go.id)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....