Mengapa Naik Gaji Tak Bikin Bahagia Lama?
- 07 Apr 2026 14:32 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Fenomena ini kerap dialami banyak pekerja. Setelah lama menunggu kenaikan gaji, rasa senang yang muncul biasanya hanya bertahan sebentar. Dalam beberapa minggu, perasaan tersebut kembali ke kondisi semula. Dalam dunia psikologi, hal ini dikenal sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali pada tingkat kebahagiaan yang stabil meskipun mengalami perubahan besar dalam hidup, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Penjelasan paling populer mengenai fenomena ini dikemukakan oleh Richard Easterlin. Ia menemukan bahwa dalam jangka panjang, peningkatan pendapatan suatu negara tidak selalu sejalan dengan meningkatnya kebahagiaan masyarakatnya. Temuan ini dikenal sebagai Easterlin Paradox. Dalam satu negara, individu dengan pendapatan lebih tinggi memang cenderung lebih bahagia dibandingkan yang berpenghasilan rendah. Namun, ketika seluruh masyarakat mengalami peningkatan pendapatan, rata-rata tingkat kebahagiaan tidak ikut meningkat. Artinya, kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga oleh perbandingan dengan kondisi orang lain di sekitar.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di Tilburg University tahun 2013, paradoks ini dapat dijelaskan melalui mekanisme adaptasi atau pembiasaan. Manusia diibaratkan berada di atas treadmill hedonis, di mana keinginan dan standar hidup terus meningkat seiring waktu. Akibatnya, kenaikan kekayaan tidak mampu memberikan kebahagiaan yang bertahan lama.
Penelitian lain dari Universitas Oxford tahun 2020 menunjukkan bahwa harapan atau aspirasi pendapatan memiliki peran besar dalam menentukan kebahagiaan. Meskipun pendapatan nyata dapat meningkatkan kebahagiaan, meningkatnya ekspektasi justru dapat menurunkannya. Hal ini membantu menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi yang pesat tidak selalu diikuti dengan peningkatan kebahagiaan masyarakat.
Selain itu, studi dalam Journal of the European Economic Association menemukan bahwa peningkatan kesejahteraan akibat perubahan kondisi hidup, seperti perbaikan tempat tinggal, hanya bersifat sementara. Setelah beberapa waktu, sebagian besar efek kebahagiaan tersebut akan berkurang secara signifikan hingga akhirnya kembali ke titik awal.
Lalu, bagaimana cara menjaga kebahagiaan agar lebih bertahan lama? Para peneliti menyarankan untuk tidak hanya berfokus pada materi. Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga dan teman, melatih rasa syukur, serta melakukan aktivitas yang bermakna secara pribadi terbukti mampu memberikan kebahagiaan yang lebih stabil. Selain itu, membantu orang lain dan terlibat dalam kegiatan sosial juga dapat meningkatkan kebahagiaan secara lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar peningkatan materi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....