Phoenix Library Bangkit dari Gaza

  • 25 Feb 2026 06:29 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Di tengah reruntuhan Gaza, Omar Hamad memilih mengumpulkan buku ketika banyak orang sibuk menyelamatkan sisa hidup mereka. Ia menggagas Phoenix Library, perpustakaan baru yang ia sebut sebagai simbol kebangkitan intelektual setelah dua tahun perang menghancurkan ruang belajar dan budaya baca di wilayah tersebut.

Menurut laporan situasi dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, ribuan bangunan sipil termasuk sekolah dan fasilitas publik rusak atau hancur selama konflik berlangsung. Di ruang kosong itulah Omar melihat celah. Jika bangunan bisa runtuh, ia percaya pengetahuan tidak boleh ikut terkubur.

Omar tumbuh sebagai penyair yang hidup dari kata kata. Kepada The Jordan Times ia mengatakan bahwa buku bukan benda suci atau pajangan indah, melainkan bagian tak terpisahkan dari jiwanya. Ia membaca setiap hari bahkan selama genosida berlangsung. Dalam kondisi berpindah dari satu tenda pengungsian ke tenda lain, ia membawa buku dengan gerobak keledai dan membungkusnya dengan keffiyeh agar tetap aman. Tindakan ini terlihat sederhana, tetapi secara simbolik kuat. Saat banyak keluarga kehilangan rumah dan akses pendidikan, terutama anak anak, membaca menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap upaya penghapusan memori dan identitas.

Bersama temannya Ibrahim, Omar mulai menyelamatkan buku dari rumah yang ditinggalkan dan bangunan yang dibom. Ia memahami dilema warga yang terpaksa membakar buku untuk memasak di tengah kelaparan. Data ketahanan pangan dari World Food Programme menunjukkan tingkat krisis pangan akut di Gaza meningkat tajam selama perang. Dalam situasi seperti itu, bertahan hidup memang prioritas. Omar bahkan pernah menawarkan koleksi kecilnya ditukar dengan satu karung tepung demi memberi makan keluarga. Tidak ada yang menerima tawaran itu. Keputusan itu menyisakan pertanyaan penting. Apakah masyarakat masih melihat nilai pada buku di tengah krisis. Fakta bahwa tidak ada yang menukar tepung dengan perpustakaan kecilnya menunjukkan bahwa buku tetap memiliki makna, meski tak langsung mengenyangkan.

Phoenix Library kini berdiri dengan banyak rak yang belum terisi. Nama Phoenix dipilih sebagai lambang bangkit dari abu. Ia tidak mengklaim bahwa perpustakaan bisa menghentikan perang. Namun ia menegaskan bahwa kebudayaan membaca harus hidup agar generasi muda tidak tumbuh dalam ruang hampa pengetahuan. Laporan UNESCO tentang perlindungan warisan budaya di zona konflik menekankan bahwa pemulihan pascaperang tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan akses pendidikan dan literasi. Di titik ini, inisiatif Omar menjadi studi kasus konkret. Jika kamu ingin terlibat, ia membuka donasi melalui platform chuffed untuk mengisi rak rak kosong tersebut. Pertanyaannya bukan hanya soal mengirim buku. Pertanyaannya apakah kamu percaya bahwa membaca tetap relevan ketika dunia di sekitarnya runtuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....