Mutiara Pagi: Memikul Salib Dengan Cinta

  • 19 Feb 2026 14:18 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado: Program Siaran Mutiara Pagi hari ini, Kamis, 19 Februari 2026 menghadirkan Pastor Yohanes I Made Pantyasa, Pr sebagai nara sumber dengan tema "Memikul Salib Dengan Cinta".

Setelah membacakan Injil berdasarkan Kalender Liturgi hari ini, yakni Lukas 9:22-25, berikut ini homili Pastor Made: "Suatu hari ada seorang anak kecil yang melihat ayahnya pulang kerja dengan wajah lelah dan pakaian basah oleh keringat. Anak itu bertanya, “Ayah, kenapa setiap hari harus bekerja sekeras itu?” Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Karena Ayah mencintai keluarga kita.” Anak itu mungkin belum sepenuhnya mengerti, tetapi ia melihat bahwa di balik kelelahan itu ada kasih yang besar. Kisah sederhana ini mengajarkan kita bahwa cinta sejati selalu membawa pengorbanan, dan hari ini, dalam sabda Tuhan, kita diajak melihat bahwa salib yang dipikul Yesus juga lahir dari cinta yang begitu dalam kepada kita.

Dalam Injil hari ini dari Injil Lukas 9:22–25, Yesus berbicara dengan sangat jujur kepada para murid-Nya. Ia mengatakan bahwa Anak Manusia harus menderita, ditolak, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Lalu Yesus menambahkan: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Sabda ini sangat kuat, terlebih bagi kita yang sedang berada dalam masa puasa dan pantang. Masa ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi perjalanan rohani untuk belajar memikul salib bersama Yesus.

Sering kali kita membayangkan bahwa mengikuti Yesus berarti hidup akan menjadi lebih mudah. Namun Yesus justru berkata sebaliknya. Mengikuti Dia berarti siap memikul salib. Mengapa? Karena kasih sejati selalu mengandung pengorbanan. Seorang ibu rela bangun malam demi anaknya. Seorang ayah bekerja keras demi keluarganya. Seorang pelayan Tuhan rela mengorbankan waktu dan tenaganya demi umat. Semua itu adalah salib, tetapi salib yang dipikul dengan cinta.

Dalam masa ini, Gereja mengajak kita untuk berpuasa dan berpantang. Puasa bukan sekadar menahan lapar. Pantang bukan sekadar tidak makan daging. Semua itu adalah latihan untuk menyangkal diri. Yesus berkata, “Ia harus menyangkal dirinya.” Menyangkal diri berarti belajar berkata “tidak” pada keinginan yang berlebihan, pada ego, pada kemalasan, pada amarah, pada dendam. Menyangkal diri berarti memberi ruang lebih besar bagi Tuhan dalam hidup kita.

Kadang kita merasa salib kita terlalu berat. Masalah keluarga, ekonomi, kesehatan, pelayanan, atau relasi yang retak. Kita bertanya, “Tuhan, mengapa saya harus mengalami ini?” Yesus sendiri pun ditolak dan menderita. Ia tidak lari dari salib-Nya. Ia tidak membalas penolakan dengan kebencian. Ia menerima semuanya dalam ketaatan kepada Bapa. Maka ketika kita merasa salib kita berat, kita tidak sendirian. Yesus berjalan bersama kita.

Yesus juga berkata, “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” Dunia mengajarkan kita untuk mempertahankan diri, mencari kenyamanan, mengejar keuntungan. Namun Yesus mengajarkan logika yang berbeda: kehilangan demi kasih justru menyelamatkan. Ketika kita memberi waktu untuk keluarga, meski lelah, kita tidak rugi. Ketika kita mengampuni meski terluka, kita tidak kalah. Ketika kita berbagi kepada yang membutuhkan meski kita sendiri terbatas, kita tidak menjadi miskin. Justru di situlah kita menemukan kebahagiaan hidup yang sejati.

Masa puasa adalah kesempatan untuk memeriksa hati. Apakah selama ini saya terlalu sibuk mengejar “dunia”? Yesus bertanya, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Kadang kita sibuk mengejar uang, jabatan, pengakuan, tetapi hati kita kosong. Kita terlihat berhasil, tetapi jiwa kita lelah. Kita tersenyum di luar, tetapi gelisah di dalam. Puasa mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana keadaan jiwa saya?

Saudara-saudari, salib setiap orang berbeda-beda. Ada yang memikul salib sakit penyakit. Ada yang memikul salib pelayanan yang kurang dihargai. Ada juga salib berupa pergulatan batin: rasa bersalah, penyesalan, atau kekecewaan. Namun Yesus berkata, “Pikullah salibmu setiap hari.” Artinya, kesetiaan itu dilakukan hari demi hari. Bukan sekali saja. Bukan hanya saat semangat. Tetapi setiap hari.

Memikul salib setiap hari juga berarti setia dalam hal-hal kecil. Setia berdoa meski sibuk. Setia mengikuti Misa meski lelah. Setia berbuat baik meski tidak dipuji. Setia berkata jujur meski ada risiko. Dalam hal-hal kecil itulah kita belajar menjadi murid Kristus yang sejati.

Dalam masa puasa ini, mungkin kita bisa bertanya: salib apa yang ingin saya hindari? Apakah saya lari dari tanggung jawab? Apakah saya menyimpan kebencian yang belum saya lepaskan? Apakah saya sulit mengampuni? Mungkin inilah saatnya kita datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, ajari aku memikul salib dengan cinta, bukan dengan keluhan.”

Yesus tidak hanya berbicara tentang penderitaan. Ia juga berbicara tentang kebangkitan. Ia berkata bahwa pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan. Artinya, salib bukan akhir. Puasa selalu menuju Paskah. Pengorbanan selalu menuju sukacita. Air mata selalu menuju penghiburan. Ketika kita setia memikul salib bersama Yesus, kita juga akan mengalami kebangkitan bersama-Nya.

Masa puasa dan pantang adalah masa pembaruan. Janganlah kita jalani hanya sebagai kewajiban. Mari kita jalani sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan. Ketika kita berpuasa, kita belajar mengendalikan diri. Ketika kita berpantang, kita belajar berbagi. Ketika kita berdoa lebih sungguh, kita membuka hati bagi rahmat Allah.

Saudara-saudari terkasih, mungkin kita tidak mampu memikul salib besar seperti para martir. Tetapi kita bisa memikul salib kecil dengan setia. Senyum yang kita berikan kepada orang yang menyakiti kita. Doa yang kita panjatkan bagi orang yang tidak menyukai kita. Kesabaran dalam menghadapi anak, pasangan, atau rekan kerja. Itulah salib harian kita.

Akhirnya, marilah kita memandang Yesus yang berjalan menuju Kalvari. Ia tidak berjalan sendirian. Ia berjalan untuk kita dan bersama kita. Dalam masa puasa ini, mari kita berkata dengan iman: “Tuhan, aku mau mengikuti-Mu. Aku mau belajar menyangkal diri. Aku mau memikul salibku setiap hari.”

Karena bersama Yesus, salib bukan kutukan, melainkan jalan menuju kehidupan. Bersama Yesus, kehilangan bukan kehancuran, melainkan keselamatan. Dan bersama Yesus, puasa bukan sekadar menahan diri, melainkan perjalanan cinta menuju kebangkitan. (mD)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....