SMEAR Campaign Pola Manipulasi yang Merusak Reputasi Korban

  • 07 Feb 2026 11:30 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID,Manado - SMEAR Campaign dalam suatu hubungan adalah pola perilaku ketika seseorang sengaja merusak citra, reputasi, atau karakter pasangannya (atau mantan pasangan) di hadapan orang lain secara bertahap dan sering kali terselubung,bukan lewat tuduhan langsung.

Ini bukan sekadar curhat biasa. Tujuannya lebih dalam mengontrol narasi, menjatuhkan kepercayaan orang lain terhadap korban, dan melindungi citra pelaku.

Dikutip dari laman psychologytoday.com,individu yang menjalankan kampanye fitnah merasa dirugikan dan berusaha menghukum mereka yang dianggap bersalah. Mereka adalah pelaku kekerasan yang menggambarkan korban sebagai pelaku, karena mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai korban. Orang-orang ini tidak mampu bertanggung jawab atas tindakan mereka. Mereka melancarkan kampanye fitnah untuk mengendalikan narasi, dan seringkali, untuk menulis ulang sejarah.

Kampanye fitnah sama dengan pembunuhan karakter. Pelaku kekerasan memiliki niat untuk merusak reputasi target, dan jika mereka berhasil, mereka merasa telah "menang." Mereka ingin melindungi persepsi publik mereka sendiri, dan membuat korban tampak sebagai orang yang "gila".

Mereka melakukan ini dengan menyebarkan informasi palsu atau berlebihan tentang target, sementara mereka sering juga membagikan informasi pribadi yang sebenarnya, dengan tujuan untuk membuat orang lain berbalik melawan orang tersebut. Mereka yang direkrut oleh pelaku untuk secara aktif berpartisipasi dalam manipulasi mereka menjadi rombongan yang dikenal sebagai "monyet terbang."

(Istilah ini berasal dari The Wizard of Oz, di mana Penyihir Jahat dari Barat menempatkan sekelompok monyet bersayap di bawah mantranya untuk melakukan perintahnya.) Taktik fitnah ini tidak akan berhasil pada semua orang yang didekati, seringkali hanya memengaruhi orang-orang yang mudah dimanipulasi. Mereka yang berpihak pada pelaku pada akhirnya juga menjadi korban, dan juga memungkinkan terjadinya lebih banyak pelecehan.

Para ahli menekankan pentingnya literasi kesehatan mental dan sikap kritis masyarakat dalam menyikapi narasi negatif tentang seseorang. Tidak semua cerita yang terdengar meyakinkan mencerminkan kebenaran yang utuh. Verifikasi, empati, dan kesediaan mendengar dari berbagai sudut pandang menjadi langkah penting untuk mencegah dampak buruk smear campaign.

Smear campaign bukan sekadar konflik pribadi, melainkan bentuk kekerasan psikologis yang nyata. Kesadaran publik diharapkan dapat menjadi benteng utama dalam melindungi korban dan memutus rantai manipulasi yang dilakukan oleh individu narsistik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....