Jasa Titip Belanja Tradisional

  • 06 Feb 2026 14:58 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Jasa titip belanja antar kampung tanpa menggunakan aplikasi digital masih menjadi praktik yang hidup di sejumlah wilayah pedesaan Indonesia. Polanya berlangsung sederhana. Warga yang hendak pergi ke pasar atau ke daerah lain kerap menerima titipan belanja dari tetangga maupun keluarga. Setelah barang dibelikan, titipan tersebut dibawa pulang lalu diserahkan secara langsung, disertai pembayaran di tempat. Seluruh proses berjalan tanpa perantara teknologi, melainkan mengandalkan rasa percaya antarindividu.

Kehadiran jasa titip tradisional ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa membangun mekanisme ekonomi yang fungsional dengan cara yang sederhana. Kepercayaan menjadi fondasi utama, sementara relasi sosial berperan sebagai pengikat sistem. Aktivitas titip belanja tidak hanya memudahkan pemenuhan kebutuhan, tetapi juga memperkuat hubungan antarwarga karena dilandasi kedekatan emosional dan rasa tanggung jawab bersama.

Penelitian Ahmad Fauzi yang dimuat dalam Jurnal Sosiologi Pedesaan IPB Vol. 12 No. 2 Tahun 2019 menempatkan praktik titip belanja sebagai bagian dari ekonomi berbasis kepercayaan. Melalui metode etnografi dan wawancara, penelitian menemukan bahwa transaksi yang terjadi tidak sekadar bersifat ekonomis, tetapi juga memuat nilai sosial. Kejujuran dan komitmen menjaga amanah menjadi faktor yang membuat praktik ini tetap bertahan.

Temuan serupa diungkap Angelus Darma dalam Jurnal Humaniora Universitas Nusa Cendana Tahun 2021 melalui penelitian di komunitas adat Flores. Ia menemukan bahwa aktivitas titip belanja berkaitan erat dengan budaya gotong royong. Warga yang bepergian ke pasar dianggap membawa tanggung jawab kolektif. Membawa pulang titipan dengan baik dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap kepercayaan masyarakat.

Dari sisi ekonomi, riset Ahmad Zain dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang Tahun 2022 menunjukkan bahwa praktik ini tidak berorientasi pada keuntungan besar. Imbalan yang diterima biasanya bersifat simbolis. Meski demikian, keberadaannya memberi dampak sosial yang kuat karena membangun jaringan saling bantu antarwarga serta memperkuat rasa kebersamaan.

Berbagai kajian tersebut memperlihatkan bahwa jasa titip belanja antar kampung tanpa aplikasi bukan hanya aktivitas jual beli sederhana. Ia mencerminkan sistem sosial yang bertumpu pada kejujuran, solidaritas, dan kelekatan hubungan antarwarga. Di tengah perkembangan teknologi, praktik tradisional ini tetap bertahan sebagai bukti bahwa kepercayaan masih menjadi modal sosial yang bernilai tinggi di masyarakat pedesaan.(Apri Sri Devi Simatupang/LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....