KPPG Sulutgo Menunggu Hasil BPOM Dugaan Keracunan MBG
- 04 Feb 2026 13:22 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado- Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Sulawesi Utara–Gorontalo (KPPG Sulutgo), Billy Kereh, mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sejumlah siswa SMA dan SMK di Kota Tomohon beberapa waktu lalu.
Dia menjelaskan, sampel makanan serta muntahan para siswa korban telah diambil oleh Dinas Kesehatan dan Polres setempat, kemudian diserahkan untuk diperiksa oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Kami belum bisa menarik kesimpulan apa pun karena masih menunggu hasil uji sampel, baik dari makanan maupun muntahan para siswa. Setelah hasil itu keluar, baru bisa diketahui penyebab pastinya,” jelas Billy Kereh ditemui seusai dialog di Studio RRI Manado, Rabu 4 Februari 2026.
Ia menambahkan, sebagai langkah antisipasi, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani program MBG di wilayah tersebut telah dihentikan sementara sejak sehari setelah kejadian.
“Sejak tanggal tujuh, operasional SPPG kami hentikan sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan,” katanya.
Terkait kemungkinan sanksi, Billy menyebutkan bahwa apabila hasil pemeriksaan BPOM nantinya menunjukkan adanya kelalaian dari pihak SPPG, maka penindakan akan dilakukan sesuai petunjuk teknis yang berlaku.
“Sesuai juknis, jika terbukti ada kelalaian, akan diberikan surat peringatan pertama. Namun keputusan tersebut berada di pihak pusat, dalam hal ini Badan Gizi Nasional, yang akan mendalami kasus ini terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tim dari pusat, termasuk dari biro hukum dan humas, direncanakan akan turun langsung untuk melakukan pendampingan terhadap SPPG yang bersangkutan. Sementara itu, layanan makan bergizi gratis di sejumlah sekolah terdampak turut dihentikan sementara guna mencegah munculnya persoalan baru.
“Untuk sementara dihentikan karena tidak memungkinkan dialihkan ke SPPG lain. Kami khawatir justru menimbulkan masalah baru,” ungkapnya.
Billy Kereh menambahkan, proses pemeriksaan laboratorium biasanya memerlukan waktu sekitar lima hingga tujuh hari.
“Kami menunggu dua hasil sekaligus, yakni dari sampel makanan dan sampel muntahan korban. Setelah itu barulah kami bisa menyampaikan perkembangan lebih lanjut,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....