Benarkah Emas Bisa Dibuat di Laboratorium Ilmiah?
- 27 Jan 2026 10:45 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado- Sejak dahulu, emas dikenal sebagai lambang kemakmuran dan kestabilan ekonomi. Selain diperoleh melalui kegiatan pertambangan, manusia juga pernah berupaya menghasilkan emas secara artifisial.
Gagasan ini muncul pada masa alkimia di abad pertengahan, ketika para alkemis berambisi mengubah logam biasa menjadi emas. Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan dengan pemikiran tersebut adalah Paracelsus (1493–1541), seorang dokter dan alkemis asal Swiss yang meyakini bahwa perubahan sifat logam dapat dicapai melalui proses kimia tertentu.
Memasuki era berikutnya, kajian mengenai pembuatan emas mulai dilakukan dengan pendekatan yang lebih terstruktur. Hennig Brand, alkemis asal Jerman yang dikenal sebagai penemu fosfor pada tahun 1669, termasuk di antara tokoh awal yang mencoba mentransformasikan logam lain menjadi emas. Meski melakukan berbagai eksperimen, upaya tersebut belum berhasil menghasilkan emas dalam bentuk murni.
Dalam praktik laboratorium modern, teknik yang paling sering digunakan adalah amalgamasi, yaitu proses pengikatan emas menggunakan air raksa. Peralatan yang umumnya digunakan meliputi tromol atau ball mill sebagai wadah pencampuran, retort untuk pemanasan, serta kondensor guna menangkap uap air raksa. Meski metode ini mampu menghasilkan emas, proses tersebut sejatinya hanya berfungsi untuk mengekstraksi emas yang sudah terkandung dalam bijih, bukan menciptakan emas baru dari logam lain. Hingga kini, transmutasi logam secara sempurna masih belum dapat diwujudkan.
Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol. 3 No. 1 Tahun 2018 oleh Rizqa Puspitarini dan rekan menelaah pengaruh penambahan daun bambu serta variasi waktu proses amalgamasi terhadap tingkat perolehan emas. Studi ini memanfaatkan tromol amalgamasi, air raksa, dan sampel bijih emas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan alami dapat meningkatkan efektivitas ekstraksi emas, meskipun risiko kesehatan akibat paparan air raksa terhadap pekerja tetap menjadi perhatian utama.
Sementara itu, Jurnal Semnastek Universitas Muhammadiyah Jakarta Tahun 2020 melalui penelitian Eko Sulistiyono dan tim membahas pemanfaatan limbah dari pengolahan emas dengan metode heap leaching. Penelitian tersebut menggunakan kolom heap leaching, larutan sianida, serta analisis terhadap sisa proses amalgamasi. Temuan penelitian mengungkap bahwa meskipun penggunaan air raksa dilakukan dalam skala terbatas, dampaknya terhadap lingkungan sangat signifikan, terutama dalam mencemari tanah dan sumber air. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan penerapan teknologi pengolahan yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, penelitian Primanda Kiky Widyaputra yang dipublikasikan dalam Jurnal Institut Teknologi Yogyakarta Tahun 2021 meneliti dampak limbah cair pengolahan emas terhadap kualitas air Sungai Gajah Wong. Dengan menggunakan analisis kimia air dan pengukuran kadar merkuri melalui spektrofotometer, penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan air raksa dalam pengolahan emas menyebabkan pencemaran berat, mengubah karakter fisik dan kimia air sungai, serta mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Secara keseluruhan, gagasan tentang pembuatan emas buatan berakar dari tradisi alkimia yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Paracelsus dan Hennig Brand. Dalam praktik modern, emas dapat diperoleh melalui proses pemisahan menggunakan teknik amalgamasi dengan bantuan alat sederhana seperti tromol dan retort, namun belum ada teknologi yang mampu menciptakan emas dari logam lain secara langsung. Penelitian mutakhir justru lebih menyoroti dampak kesehatan dan lingkungan dari penggunaan air raksa, sehingga pengembangan metode alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak.(Apri Sri Devi Simatupang/LPU)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....