Sarkasme Tren di Media Sosial Generasi Muda Indonesia

  • 21 Nov 2025 22:20 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Sarkasme atau sindiran pedas secara implisit semakin menjadi bagian gaya komunikasi Gen Z di media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, maupun Twitter sering dipenuhi konten sarkastik yang bisa tersenyum di permukaan, namun menyimpan kritik tajam di balik kata-kata. Bagi sebagian remaja, sarkasme bukan hanya humor, tetapi cara mengekspresikan ketidakpuasan, protes, atau bahkan identitas diri.

Fenomena Sarkasme di Media Sosial Gen Z

  1. TikTok dan Konten Sarkasme Remaja
    Seperti dikutip dari laman journal.untar.ac.id Dalam studi oleh Johannes Pradana & Lusia Savitri Setyo Utami (Universitas Tarumanagara), ditemukan bahwa remaja menggunakan kata “chuaks” di TikTok sebagai penutup kalimat sarkastik: misalnya “Gaya elit, ekonomi sulit chuaks” atau “Percuma cantik kalau gemuk chuaks.”
    Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja memandang sarkasme ringan (tidak menyentuh isu sensitif) sebagai “bahan bercanda”, tetapi saat menyangkut masalah penting, sarkasme bisa dipandang sebagai sindiran negatif yang menyakitkan.
  2. Etika Komunikasi Sarkas di TikTok
    Seperti dikutip dari laman jurnal.kwikkiangie.ac.id Penelitian di Jurnal Komunikasi dan Bisnis menyoroti pandangan Gen Z tentang sarkasme di TikTok. Menurut studi ini, beberapa remaja merasa bahwa berbicara “kasar” dengan sarkasme bisa tetap etis, asalkan niatnya bukan menghina secara destruktif.
    Selain itu, mereka menyatakan bahwa sarkasme banyak dipakai untuk menarik perhatian (engagement), mengekspresikan diri, atau bahkan mencari pengakuan (followers) — bagian dari cara berkomunikasi digital mereka.
  3. Sarkasme Bahasa Lokal (Jawa) di Facebook
    Dkutip dari laman archive.umsida.ac.id Penelitian Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menunjukkan bahwa remaja di Facebook menggunakan sarkasme dalam bahasa Jawa. Bentuk sarkasme ini bisa menyindir secara halus, tetapi juga bisa menimbulkan pelanggaran kesantunan dalam komunikasi.
    Faktor yang mendorong penggunaan sarkasme lokal: keakraban teman sebaya, identitas budaya, dan kebutuhan ekspresi dalam interaksi sosial digital.
  4. Sarkasme Netizen di Instagram tentang Isu Sosial / Pemerintah
    Ada penelitian terhadap netizen Instagram yang mengomentari kebijakan vaksinasi Kemenkes selama pandemi. Penelitian tersebut menemukan lima bentuk sarkasme: sarkasme sifat, tindakan, sebutan, himbauan, dan hasil tindakan.
    Penggunaan sarkasme ini berfungsi sebagai kritik sosial dan cara menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah tanpa menyatakan protes secara langsung.

Implikasi dan Risiko

  • Penyalahpahaman dan Konflik: Tidak semua orang dapat mengenali sarkasme, terutama dalam teks digital tanpa nada suara. Hal ini dapat memicu salah paham atau luka emosional. (Konflik semacam ini tercatat dalam riset penggunaan sarkasme di Instagram)
  • Etika Komunikasi: Meskipun beberapa Gen Z menganggap sarkasme kasar sah selama niatnya tidak menghina, tetap perlu batasan agar tidak menjadi kekasaran verbal yang merugikan.
  • Pendidikan Bahasa: Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu mengajarkan nuansa sarkasme agar siswa bisa memahami dan menggunakan gaya bahasa ini secara bijak.
  • Literasi Digital: Pengguna muda perlu meningkatkan literasi media agar bisa menafsirkan konten sarkastik dengan tepat. Ini penting agar sarkasme tidak berubah jadi bentuk agresi verbal atau cyberbullying.

Rekomendasi

  1. Pendidikan Kesadaran Media: Sekolah dan orang tua dapat memasukkan konten literasi digital yang menyoroti penggunaan sarkasme secara sehat.
  2. Dialog Terbuka: Generasi muda perlu didorong untuk berdiskusi tentang kapan sarkasme dianggap lucu, dan kapan bisa menyakiti.
  3. Etika Digital Influencer: Pembuat konten (terutama remaja) di TikTok dan Instagram dapat dipandu untuk menyadari dampak dari gaya sarkastik mereka.
  4. Penelitian Lanjutan: Peneliti bisa mengeksplorasi dampak jangka panjang dari penggunaan sarkasme pada kesehatan mental pengguna media sosial muda.

Kesimpulan

Sarkasme dalam media sosial memang sudah menjadi bagian dari bahasa komunikatif Gen Z di Indonesia. Ia bisa menjadi alat ekspresi, humor, dan kritik sosial sekaligus. Namun, jika tidak dikelola dengan bijak, sarkasme juga bisa menimbulkan salah paham, konflik, dan menurunkan kualitas interaksi digital. Untuk itu, literasi digital dan kesadaran etika komunikasi sangat penting agar sarkasme bisa menjadi sarana positif, bukan hanya sekadar “sindir-sindiran” yang menyakiti.

(Stanly Kalumata)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....