“Muka Tembok: Antara Berani dan Tak Tahu Malu”
- 17 Nov 2025 14:37 WIB
- Manado
KBRN,Manado: Istilah “muka tembok” kembali ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah figur publik disebut-sebut memiliki sikap yang tidak mempan kritik. Ungkapan ini dinilai menggambarkan perilaku sosial yang semakin sering ditemui dalam kehidupan modern.
Seperti dilansir dari laman kamus.sabda.org menurut Kamus SABDA, istilah bermuka tembok diartikan sebagai sifat tidak tahu malu atau tidak peduli pada pendapat orang lain. Istilah ini satu rumpun dengan ungkapan “muka tebal” yang juga kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari laman floreseditorial.com media opini Flores Editorial sebelumnya pernah menyoroti penggunaan istilah ini dalam diskursus publik ketika netizen menilai sejumlah tokoh tidak menanggapi kritik secara wajar. Istilah tersebut menjadi simbol kritik masyarakat terhadap perilaku yang dianggap tidak sensitif.
Dari perspektif budaya, ungkapan serupa juga ditemukan dalam bahasa Jawa, yaitu “rai gedhek”, yang merujuk pada sifat keras dan tidak tergoyahkan oleh teguran. Penjelasan ini disebutkan oleh TerasLampung sebagai salah satu metafora lokal yang sejalan dengan konsep “muka tembok”.
(Sumber: teraslampung.com)
Sementara itu, ulasan dari Indonesian Pragmatics Association (INAPRA) menegaskan bahwa istilah “muka” dalam bahasa Indonesia tidak hanya menunjuk pada wajah fisik, tetapi juga citra diri seseorang di masyarakat. Ketika individu disebut “muka tembok”, berarti ia dianggap tidak menjaga citra tersebut.
Para pemerhati sosial menilai bahwa meningkatnya penggunaan istilah ini bisa berkaitan dengan dinamika ruang digital, di mana kritik publik mudah disuarakan namun respons pelakunya dapat beragam—mulai dari pengabaian hingga sikap tidak malu.
Hingga kini, fenomena “muka tembok” tetap menjadi bagian dari kritik sosial yang mencerminkan harapan masyarakat terhadap perilaku etis, rasa malu, dan tanggung jawab moral.
“Muka tembok” bukan sekadar ejekan, tetapi gambaran tentang bagaimana sebagian orang merespons kritik dan tekanan sosial. Dalam konteks budaya, idiom ini menunjukkan bahwa rasa malu masih dianggap nilai penting. Namun dalam realitas modern, sikap ini dapat muncul sebagai bentuk keberanian, ketidakpedulian, atau bahkan strategi sosial untuk bertahan dalam tekanan publik.
(Stanly Kalumata)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....