BRIN Temukan Dua Spesies Anggrek Baru Raja Ampat
- 15 Okt 2025 11:07 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Dua spesies anggrek baru berhasil ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Kedua spesies tersebut adalah Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu, yang kini resmi terdaftar sebagai anggota baru keluarga Orchidaceae. Penemuan ini menambah kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus menegaskan pentingnya wilayah Papua sebagai pusat sumber daya genetik dunia.
Penemuan ini berawal dari kegiatan inventarisasi tumbuhan yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Papua Barat bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2022 di Pulau Batanta, Raja Ampat. Tim peneliti berhasil mengoleksi berbagai jenis anggrek alam dan mencatat pemanfaatannya oleh masyarakat lokal. Setelah beberapa tahun, koleksi tersebut berbunga, memungkinkan identifikasi morfologi lebih rinci.
Hasil pengamatan menunjukkan dua spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya. Publikasi ilmiah mengenai temuan ini telah dimuat di jurnal internasional Telopea pada Agustus 2025. Kolaborasi penelitian melibatkan Reza Saputra (Kementerian Kehutanan), Destario Metusala (BRIN), Andre Schuiteman (Kew Botanic Gardens, Inggris), Yuanito Eliazar (Indonesian Society of Botanical Artists), serta Ashley Field, Katharina Nargar, dan Darren Crayn (Australian Tropical Herbarium, James Cook University).
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Destario Metusala, menjelaskan bahwa kedua spesies baru tersebut merupakan anggrek epifit yang tumbuh alami di batang pepohonan.
“Dendrobium siculiforme memiliki batang tegak setinggi 15–50 cm dengan daun tersusun berseling. Bunganya berwarna krem kekuningan dengan guratan cokelat keunguan dan berdiameter sekitar 7 cm,” ungkapnya.
Ia menambahkan, nama “siculiforme” diambil dari bahasa Latin yang berarti berbentuk seperti belati, menggambarkan bentuk bibir bunganya yang unik. Spesies ini memiliki kemiripan dengan Dendrobium magistratus, tetapi berbeda pada karakter perbungaan serta bentuk sepal dan bibir bunga.
Sementara itu, Bulbophyllum ewamiyiuu berukuran lebih kecil, hanya 8–12 cm dengan satu daun di setiap pseudobulb. Bunganya kecil, sekitar 5–6 mm, dengan warna dasar kuning berpadu semburat merah marun.
“Nama ewamiyiuu berasal dari bahasa Batanta yang berarti ‘bergaris’, mengacu pada corak kecokelatan pada pseudobulb,” jelas Destario.
Kedua spesies ini diduga merupakan spesies endemik Raja Ampat dengan sebaran yang sangat terbatas. Berdasarkan kriteria IUCN Red List, Dendrobium siculiforme diusulkan berstatus Kritis (Critically Endangered), sedangkan Bulbophyllum ewamiyiuu masuk kategori Kekurangan Data (Data Deficient).
Destario menegaskan pentingnya percepatan riset keanekaragaman hayati untuk mendukung pelestarian ekosistem Papua.
“Potensi temuan spesies baru di Papua masih sangat besar. Namun, ancaman kerusakan hutan dan pengambilan liar dapat mengancam keberlangsungan anggrek-anggrek langka ini,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan meningkatnya risiko perdagangan liar akibat tingginya minat kolektor.
“Spesies baru seperti Bulbophyllum ewamiyiuu bahkan sudah mulai diperjualbelikan hingga ke Pulau Jawa,” tambahnya.
BRIN mengimbau masyarakat dan komunitas pecinta anggrek untuk berperan aktif dalam upaya konservasi.
“Upaya pelestarian harus dilakukan bersama agar keindahan anggrek Papua tetap terjaga untuk generasi mendatang,” tutup Destario.
(Fika Hamzah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....