Transportasi Kereta Api Sumut Didorong Maju Meski Hadapi Banyak Tantangan

  • 16 Jul 2026 09:42 WIB
  •  Manado
Layanan KA Didominasi Kereta Bersubsidi

RRI.CO.ID, Manado - Layanan kereta api penumpang di wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan terus menunjukkan peran strategis sebagai tulang punggung konektivitas regional di Sumatera Utara. Di balik potensi besar tersebut, pengembangan transportasi berbasis rel masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan jalur tunggal (single track), tingginya jumlah pelintasan sebidang tidak dijaga, hingga perubahan pola mobilitas masyarakat pascapandemi.

Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Medan mengelola jaringan rel sepanjang 881,45 kilometer, terdiri atas 456,45 kilometer jalur aktif dan 425 kilometer jalur nonaktif. Infrastruktur tersebut didukung 46 stasiun aktif, 20 stasiun nonaktif, serta rencana pembangunan dua stasiun baru di lintas Medan–Binjai, yakni Stasiun Sunggal dan Stasiun Helvetia. Wilayah kerja BTP Medan juga mencakup lintas Lhokseumawe–Bireuen di Provinsi Aceh sepanjang 29,4 kilometer.

Volume Penumpang Masih Tinggi

Setiap hari terdapat 64 perjalanan kereta api penumpang, terdiri atas 6 perjalanan kereta komersial dan 58 perjalanan kereta bersubsidi (PSO) maupun perintis. Operasional tersebut dilayani tujuh armada, yakni KA Sribilah Utama, KA Putri Deli, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Belambangan, KA Srilelawangsa, KA Srilelawangsa Bandara, dan KA Cut Meutia.

Beberapa layanan menjadi andalan masyarakat. KA Putri Deli melayani lintas Medan–Tanjung Balai sepanjang 174,4 kilometer dengan enam perjalanan setiap hari dan tarif Rp27.000. Sementara KA Siantar Ekspres menghubungkan Medan–Pematang Siantar sepanjang 129 kilometer sebanyak empat perjalanan per hari dengan tarif Rp22.000.

Di sektor perkotaan, KA Srilelawangsa menjadi moda favorit masyarakat Medan dan sekitarnya dengan frekuensi mencapai 20 perjalanan setiap hari, sedangkan KA Srilelawangsa Bandara melayani akses menuju Bandara Internasional Kualanamu sebanyak 24 perjalanan per hari.

Kebijakan pemerintah menambah layanan PSO pada KA Srilelawangsa Bandara sejak 2025 berdampak signifikan terhadap keterjangkauan tarif. Tarif perjalanan yang sebelumnya berkisar Rp80.000 hingga Rp100.000 turun menjadi Rp5.000 untuk rute Medan–Araskabu dan Rp40.000 hingga Rp50.000 menuju Bandara Kualanamu.

Keselamatan dan Jalur Tunggal Jadi Tantangan

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah pengguna kereta api di wilayah kerja BTP Medan mencapai 2.265.806 penumpang. Sebanyak 1.378.961 penumpang (60,9 persen) berasal dari layanan perkotaan, sedangkan 886.845 penumpang (39,1 persen) menggunakan layanan antarkota.

Rata-rata pengguna harian tercatat sekitar 15.005 penumpang. Namun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah tersebut mengalami penurunan 11,84 persen. Penurunan terutama terjadi pada layanan komuter yang turun 21,01 persen, seiring masih diterapkannya kebijakan Work From Home (WFH) di sejumlah instansi dan perusahaan.

Sebaliknya, layanan antarkota justru menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 7,57 persen, mencerminkan masih tingginya kebutuhan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel untuk perjalanan regional.

Perlu Transformasi Infrastruktur

Selain peningkatan jumlah layanan, aspek keselamatan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dari 640 pelintasan sebidang, sebanyak 480 pelintasan atau 75 persen belum dijaga.

Kondisi tersebut menyebabkan masinis harus mengurangi kecepatan di banyak titik demi menjaga keselamatan perjalanan, yang berdampak terhadap ketepatan waktu operasional kereta.

Persoalan lain adalah masih dominannya jalur tunggal (single track) di sebagian besar lintasan. Keterbatasan kapasitas jalur membuat pengaturan persilangan kereta menjadi semakin kompleks, terutama setelah adanya peningkatan frekuensi perjalanan KA PSO.

Di sisi lain, operasional kereta api juga menghadapi tantangan akibat bencana hidrometeorologi. Salah satunya adalah penghentian sementara operasional KA Cut Meutia di Aceh sejak Desember 2025 akibat kerusakan prasarana rel.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai keberhasilan pengembangan transportasi berbasis rel tidak cukup hanya mengandalkan tarif murah.

"Masyarakat akan menjadikan kereta api sebagai pilihan utama apabila mampu memberikan kepastian waktu tempuh, tingkat keselamatan yang tinggi, serta konektivitas yang baik dengan moda transportasi lainnya," ujar Djoko.

Menurutnya, pemerintah juga perlu mempercepat peningkatan kapasitas lintasan yang masih menggunakan jalur tunggal.

"Selama kapasitas lintasan belum ditingkatkan, ruang untuk menambah frekuensi perjalanan akan selalu terbatas dan berpotensi menimbulkan keterlambatan berantai ketika terjadi gangguan operasional," katanya.

Djoko menambahkan, keselamatan di pelintasan sebidang harus menjadi prioritas utama melalui pembangunan pelintasan tidak sebidang, penutupan pelintasan liar, serta peningkatan disiplin pengguna jalan.

"Kereta api bukan sekadar alat angkut penumpang, tetapi instrumen pembangunan wilayah. Jika terintegrasi dengan kawasan industri, pelabuhan, bandara, dan destinasi wisata, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar dibanding hanya diukur dari jumlah penumpang," ucapnya.

Menurut Djoko, masa depan layanan kereta api di Sumatera Utara sangat bergantung pada percepatan modernisasi prasarana, peningkatan keselamatan perjalanan, serta penguatan integrasi antarmoda agar transportasi berbasis rel semakin kompetitif dan mampu menjadi pilihan utama masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....