Ketika Jalan Menuju Sekolah Menentukan Kesejahteraan Guru

  • 30 Jun 2026 14:45 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Menjadi guru di Indonesia berarti bertarung dengan ruang dan jarak. Dari kepungan macet kota hingga jalur pedalaman yang ekstrem, dimensi mobilitas harian ini perlahan ikut menentukan kesejahteraan nyata seorang pendidik.

Kesejahteraan guru memiliki keterkaitan erat dengan layanan transportasi, baik secara langsung melalui aspek finansial dan fisik, maupun tidak langsung pada dimensi psikologis dan profesional. Di Indonesia, isu mobilitas ini menjadi sangat krusial, khususnya bagi guru honorer berpenghasilan terbatas serta tenaga pendidik yang mengabdi di wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan).

Pendapatan bulanan guru sering kali tergerus oleh tingginya biaya mobilitas sehari-hari. Ketiadaan transportasi publik yang memadai dan terjangkau memaksa mereka beralih ke kendaraan pribadi, yang berujung pada membengkaknya pengeluaran untuk bahan bakar dan perawatan. Kondisi ini kian ekstrem di daerah terpencil.

Nihilnya angkutan perintis membuat ongkos perjalanan melambung tinggi hingga menghabiskan sebagian besar gaji atau tunjangan profesi mereka. Oleh karena itu, penyediaan akses transportasi yang terjangkau secara tidak langsung akan mendongkrak pendapatan riil (disposable income) guru melalui pemangkasan biaya logistik pribadi.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai bahwa kesejahteraan guru tidak dapat dipisahkan dari kemudahan akses transportasi.

"Selama biaya mobilitas masih menggerus penghasilan guru, terutama guru honorer dan guru di daerah terpencil, maka kesejahteraan mereka belum sepenuhnya terpenuhi. Transportasi yang terjangkau merupakan bagian dari kebijakan kesejahteraan." — Djoko Setijowarno.

Buruknya layanan transportasi, seperti kemacetan parah di perkotaan maupun rute ekstrem di pedesaan, menyerap waktu dan energi yang besar bahkan sebelum guru memasuki ruang kelas. Perjalanan melelahkan selama berjam-jam dengan kondisi transportasi yang tidak kondusif ini membuat tenaga pendidik rentan tiba di sekolah dalam keadaan lelah secara fisik dan mental (burnout).

Ketika energi fisik sudah terkuras di jalan, kualitas mengajar, kesabaran dalam mendampingi siswa, hingga kreativitas menyusun materi pembelajaran otomatis ikut menurun. Di sinilah pentingnya transportasi yang andal menjadi garansi agar guru bisa tiba di sekolah dengan kondisi prima, siap memberikan energi terbaiknya untuk anak didik.

Guru honorer dengan pendapatan Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan harus mengeluarkan sekitar 20 hingga 40 persen gajinya hanya untuk biaya bensin maupun ojek online apabila sekolah tempat mereka mengajar tidak terjangkau angkutan umum.

Sementara itu, guru di wilayah kepulauan seperti Maluku, Maluku Utara, maupun Nusa Tenggara Timur harus mengalokasikan biaya transportasi menggunakan speedboat atau kendaraan darat khusus yang nilainya dapat mencapai lebih dari 50 persen tunjangan daerah terpencil yang mereka terima.

Menurut Djoko Setijowarno, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan transportasi sesungguhnya juga merupakan investasi di sektor pendidikan.

"Transportasi bukan sekadar memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Bagi guru, transportasi menentukan kesiapan fisik, kesehatan mental, produktivitas mengajar, bahkan kualitas pendidikan yang diterima peserta didik." — Djoko Setijowarno.

Faktor keselamatan transportasi di lapangan juga bertalian erat dengan kesejahteraan fisik serta mental para guru. Realitas pilu masih sering dijumpai di daerah pedalaman maupun kepulauan. Demi mencerdaskan bangsa, guru terpaksa menyeberangi sungai menggunakan perahu seadanya atau berkendara melewati jalan rusak yang membahayakan keselamatan mereka setiap hari.

Rasa waswas yang terus-menerus hadir sepanjang perjalanan lambat laun akan menggerus kualitas hidup para guru. Kehadiran negara sangat dibutuhkan melalui pembangunan jalan yang layak, jembatan yang aman, serta penyediaan angkutan perintis yang dapat diandalkan. Dengan demikian, negara tidak hanya menjamin mobilitas, tetapi juga memberikan rasa aman dan ketenangan psikologis bagi para pendidik.

Salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan adalah sulitnya mendistribusikan guru-guru berkualitas ke daerah terpencil. Ketika tenaga pendidik enggan bertugas di pelosok karena akses yang sulit, kesenjangan mutu pendidikan akan semakin melebar.

Daerah yang memiliki konektivitas transportasi memadai terbukti lebih mudah mempertahankan guru agar tetap mengabdi. Ketika angkutan perintis darat, laut, maupun udara tersedia secara rutin, guru tidak lagi merasa terisolasi. Mereka tetap dapat menjangkau layanan kesehatan, mengikuti pelatihan, memperoleh informasi, sekaligus menjaga hubungan dengan keluarga.

Djoko Setijowarno menegaskan bahwa pembangunan transportasi harus menjadi bagian dari strategi pemerataan pendidikan nasional.

"Kalau pemerintah ingin pemerataan pendidikan berhasil, maka pemerataan akses transportasi harus berjalan bersamaan. Guru yang mudah menjangkau sekolah akan lebih betah mengabdi, dan daerah terpencil memiliki peluang lebih besar mendapatkan tenaga pendidik terbaik." — Djoko Setijowarno.

Menilai kesejahteraan guru tidak boleh berhenti pada besaran gaji pokok semata, melainkan harus melihat seberapa sehat ekosistem pendukung yang menopang kehidupan mereka sehari-hari.

Pemberian subsidi transportasi publik melalui tarif khusus bagi guru di perkotaan, perluasan jaringan angkutan perintis di wilayah kepulauan dan kawasan 3TP, serta peningkatan kualitas infrastruktur jalan merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan para pendidik.

Ketika mobilitas mereka dipermudah, efisiensi ekonomi meningkat, beban psikologis berkurang, dan kualitas hidup menjadi lebih baik. Dampaknya akan bermuara pada peningkatan mutu proses belajar mengajar di ruang kelas.

Memuliakan guru tidak cukup hanya dengan menaikkan angka dalam slip gaji. Menyejahterakan mereka berarti juga memastikan jalan yang mereka lalui aman, transportasi yang mereka gunakan mudah dijangkau, dan biaya perjalanan yang mereka keluarkan tidak menggerus penghasilan.

Karena pada akhirnya, mencerdaskan bangsa adalah sebuah perjalanan panjang. Dan perjalanan itu harus dimulai dengan memastikan para guru dapat tiba di kelas dengan senyuman, semangat, dan kondisi terbaik untuk mendidik generasi penerus bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....