Nyeri Dada, Jantung atau GERD? Kenali Bedanya sebelum Terlambat

  • 01 Jun 2026 10:20 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Nyeri dada sering kali membuat seseorang langsung khawatir mengalami serangan jantung. Namun faktanya, tidak semua nyeri dada berasal dari gangguan jantung.

Salah satu kondisi yang juga sering menimbulkan keluhan serupa adalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung.

Melalui akun Instagram @dr.bobbyjantung, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K) memberikan edukasi mengenai perbedaan nyeri dada akibat penyakit jantung koroner (PJK) dan GERD agar masyarakat tidak salah mengartikan gejala yang muncul.

Menurut dr. Bobby, kedua kondisi tersebut memang sama-sama dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di area dada, tetapi penyebab, faktor risiko, hingga gejalanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Penyebab yang Berbeda

Dr. Bobby menjelaskan, pada penyakit jantung koroner, nyeri dada terjadi akibat adanya penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner yang bertugas memasok darah ke otot jantung.

Sementara pada GERD, keluhan muncul karena naiknya asam lambung ke kerongkongan sehingga menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan bagian atas.

"Nyeri dada bisa disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya penyakit jantung koroner dan penyakit lambung seperti GERD. Penting untuk mengenali perbedaannya agar tidak salah mengambil langkah," jelas dr. Bobby dalam edukasinya.

Kenali Faktor Risikonya

Penyakit jantung koroner umumnya lebih sering terjadi pada mereka yang memiliki faktor risiko seperti merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, hingga riwayat genetik dalam keluarga.

Sedangkan GERD lebih banyak dipicu oleh pola hidup tertentu seperti obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi kopi, alkohol atau minuman bersoda berlebihan, makan dalam porsi besar, hingga kebiasaan langsung berbaring setelah makan.

Perbedaan Gejala yang Perlu Diperhatikan

Salah satu cara paling mudah membedakan keduanya adalah dengan memperhatikan karakter nyeri yang muncul.

Pada penyakit jantung koroner, nyeri biasanya terasa di bagian tengah atau kiri dada seperti ditekan benda berat. Keluhan sering muncul saat beraktivitas fisik dan dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, punggung, atau bahu.

Sementara pada GERD, sensasi yang dirasakan lebih menyerupai rasa terbakar di dada atau yang dikenal dengan istilah heartburn.

Gejala biasanya muncul setelah makan, memburuk saat malam hari atau ketika berbaring, dan sering disertai rasa asam di mulut, sulit menelan, mual hingga sakit tenggorokan.

Jangan Asal Menebak Diagnosis

Dr. Bobby mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung menyimpulkan penyebab nyeri dada tanpa pemeriksaan medis. Sebab, beberapa gejala antara penyakit jantung dan GERD memang bisa tampak mirip.

Untuk memastikan penyebabnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti elektrokardiogram (EKG), treadmill test, hingga kateterisasi jantung apabila dicurigai berasal dari gangguan jantung.

Sedangkan pada GERD, pemeriksaan dapat berupa endoskopi, pemantauan pH asam lambung, maupun pemeriksaan penunjang lainnya.

Segera Periksa Jika Nyeri Dada Berulang

Meski tidak semua nyeri dada menandakan serangan jantung, dr. Bobby menegaskan bahwa keluhan yang muncul berulang, semakin berat, atau disertai sesak napas dan keringat dingin tidak boleh dianggap sepele.

Mengenali perbedaan gejala sejak dini dapat membantu penanganan yang lebih cepat dan tepat. Jika ragu, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.

Sumber: Edukasi kesehatan dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah melalui akun Instagram @dr.bobbyjantung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....