Sakit Jantung karena Patah Hati? ternyata Bisa Terjadi Secara Medis

  • 25 Apr 2026 06:44 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamujuu - Fenomena “patah hati” selama ini sering dianggap sebatas ungkapan emosional. Namun, siapa sangka kondisi tersebut juga dapat berdampak nyata pada kesehatan fisik, khususnya jantung.

Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis jantung, dr. Bobby Jantung, melalui unggahan edukatifnya di media sosial.

Dalam sebuah kesempatan di acara Half Deen Series, ia menjelaskan bahwa kesedihan mendalam seperti kehilangan orang tercinta dapat memicu gangguan pada jantung.

Pernyataan ini sejalan dengan sejumlah studi medis yang menunjukkan hubungan antara stres emosional berat dan peningkatan risiko gangguan jantung.

Kesedihan Mendalam dan Risiko Kesehatan

Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa pria yang kehilangan pasangan hidup memiliki risiko kematian hingga sekitar 70 persen lebih tinggi dalam satu tahun setelah kehilangan tersebut. Sementara pada wanita, peningkatan risiko juga terjadi, meski lebih rendah, yakni sekitar 27 persen.

Data ini menunjukkan bahwa dampak emosional tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis, tetapi juga dapat berdampak sistemik pada tubuh.

Mengenal Broken Heart Syndrome

Secara medis, kondisi ini dikenal sebagai Broken Heart Syndrome atau Takotsubo Cardiomyopathy. Ini adalah gangguan sementara pada fungsi jantung yang dipicu oleh stres emosional atau fisik yang berat.

Beberapa pemicu yang umum antara lain:

  • - Kehilangan orang yang dicintai
  • - Syok emosional
  • - Pertengkaran hebat
  • - Kecelakaan
  • - Kabar buruk yang datang tiba-tiba

Pada kondisi ini, bentuk jantung—khususnya bagian ventrikel kiri—dapat berubah menyerupai perangkap gurita dari Jepang (takotsubo), yang menjadi asal nama penyakit tersebut.

Gejala Mirip Serangan Jantung

Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah gejalanya sering menyerupai serangan jantung, seperti:

  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Jantung berdebar
  • Keringat dingin

Namun, berbeda dengan serangan jantung pada umumnya, pada Broken Heart Syndrome tidak ditemukan penyumbatan pada pembuluh darah jantung saat diperiksa.

Apa Penyebabnya?

Meski belum sepenuhnya dipahami, para ahli menduga kondisi ini dipicu oleh lonjakan hormon stres, seperti adrenalin. Lonjakan ini dapat membuat otot jantung “kaget” dan melemah sementara.

Kasusnya Jarang, Tapi Nyata

Kasus Takotsubo Cardiomyopathy tergolong jarang, diperkirakan hanya terjadi pada sekitar 100 dari 1 juta orang per tahun.

Meski demikian, kondisi ini menjadi pengingat penting bahwa kesehatan mental dan emosional memiliki peran besar terhadap kesehatan fisik.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Fenomena ini menegaskan bahwa kesedihan yang mendalam tidak boleh dianggap sepele. Dukungan sosial, pengelolaan stres, serta perhatian terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung secara keseluruhan.

Sebagaimana disampaikan oleh dr. Bobby Jantung, pemahaman terhadap kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa “patah hati” bukan sekadar istilah, tetapi juga kondisi yang bisa berdampak nyata pada tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....