Budaya Patriarki Bikin Korban Kekerasan Seksual Disalahkan Keluarga

  • 29 Apr 2026 08:13 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Budaya patriarki yang kuat dinilai membuat korban kekerasan seksual justru kerap disalahkan keluarga dan lingkungan, alih-alih mendapat dukungan dan perlindungan.

Tenaga Pendidik Universitas Sulawesi Barat dan Founder EmpowHer Women Mentoring Program, Sriwiyata Ismail Zainuddin, menjelaskan dominasi laki-laki dalam budaya patriarki dianggap sah dan normal. Akibatnya, ancaman, pemaksaan, hingga kekerasan terhadap perempuan sering dipersepsikan sebagai hal wajar dan bukan masalah serius.

“Sistem masyarakat patriarki membuat dominasi laki-laki terhadap perempuan dianggap sah, sehingga ancaman dan pemaksaan juga dianggap wajar,” ujar Sriwiyata saat dialog Pengarusutamaan Gender di RRI Mamuju, Senin, 27 April 2026.

Ia mencontohkan kasus keponakannya yang menjadi korban kekerasan seksual dari sesama mahasiswa, namun justru ditanya “kenapa bisa sampai nak kasi begitu kah?” oleh keluarga dekat. Sikap victim blaming itu muncul karena korban dinilai salah, misalnya mengirim foto tanpa jilbab, sementara perilaku pelaku tidak dipertanyakan.

“Budaya yang masih sering menyalahkan korban, atau victim blaming, sangat kuat karena latar belakang patriarki yang selalu melihat perempuan sebagai pihak yang salah,” tegas Sriwiyata.

Menurutnya, normalisasi seperti komentar “biasa ji itu begitu, memang itu anak laki-laki” membuat kekerasan seksual dianggap candaan dan tidak berbahaya. Kondisi ini mendorong pelaku merasa tindakannya bisa ditoleransi, sekaligus membuat korban ragu melapor karena khawatir dipersalahkan kembali oleh orang terdekat.

Sriwiyata menilai, pola victim blaming di keluarga dan masyarakat menyebabkan korban mengalami beban ganda, yakni trauma kekerasan dan stigma sosial. Ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang, dengan berhenti menyalahkan korban dan mulai mempertanyakan perilaku pelaku yang memilih melakukan kekerasan seksual.

Ia mendorong orang tua, pendidik, dan tokoh masyarakat aktif mengedukasi nilai kesetaraan dan penghormatan terhadap batas tubuh dan privasi sejak dini. Dengan begitu, budaya patriarki yang melanggengkan kekerasan perlahan bisa digeser menuju relasi yang lebih setara dan aman bagi perempuan maupun laki-laki.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....