Qaulan Sadidan dalam Keluarga, Fondasi Generasi Berkarakter
- 18 Feb 2026 17:39 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Perselisihan dalam rumah tangga sering kali bukan bermula dari persoalan besar, melainkan dari komunikasi yang tidak tepat. Kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan dapat memicu kesalahpahaman, bahkan merusak keharmonisan keluarga. Karena itu, budaya Qaulan Sadidan perlu dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
Dalam program Mutiara Pagi di RRI Malang dengan tema “Membangun Budaya Qaulan Sadidan” Minggu (14/2/2026) pagi, Ustazah Ir. Yayuk Sulistiningsih menjelaskan bahwa kejujuran harus disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat. Ia mencontohkan kisah Ummu Sulaim yang tetap tenang dan bijak saat menyampaikan kabar duka kepada suaminya, sehingga tidak menimbulkan guncangan emosi yang berlebihan. “Kejujuran itu penting, tapi cara menyampaikannya juga harus penuh hikmah,” jelasnya.
Dalam sesi tanya jawab, ia juga menyinggung cara menghadapi orang yang menyakiti hati. Menurutnya, memaafkan adalah langkah awal. Jika rasa sakit masih tersisa, ia menyarankan pendekatan yang tidak biasa. “Cara paling ampuh mengusir gangguan setan adalah dengan memberi hadiah kepada orang yang menyakiti kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ustazah Yayuk menekankan peran perempuan sebagai tiang negara. Pendidikan yang baik dari seorang ibu akan melahirkan generasi kuat. Namun ia menegaskan, tanggung jawab pendidikan keluarga tetap berada di tangan ayah sebagai kepala keluarga. “Bapak adalah kepala sekolah dalam rumah tangga. Sinergi keduanya akan melahirkan anak-anak yang berkarakter,” tuturnya.
Budaya Qaulan Sadidan tidak hanya berdampak pada ketenangan pribadi, tetapi juga memperkuat kualitas hubungan sosial. Allah menjanjikan perbaikan amal dan ampunan dosa bagi mereka yang bertakwa dan berkata benar.
Melalui pesan ini, masyarakat diajak menjadikan kejujuran dan ketepatan ucapan sebagai gaya hidup, bukan sekadar slogan, agar keluarga dan lingkungan tumbuh dalam suasana saling menghargai dan penuh keberkahan.