Dari Stadion Kanjuruhan ke Agroindustri, Langkah Lembut Lusiani

  • 14 Nov 2025 10:19 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Langkah kakinya ringan namun pasti. Lusiani Ferelia, perempuan yang dikenal tegas sekaligus hangat, resmi berpindah tugas dari Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dispora Kabupaten Malang menjadi Kepala Bidang Agroindustri Disperindagpasar.

Perpindahan jabatan pada Rabu (12/11/2025) ini menandai babak baru bagi Lusiani setelah dua tahun penuh dedikasi menata wajah Kawasan Stadion Kanjuruhan. Ia meninggalkan jejak nyata berupa perubahan yang tak hanya tampak pada infrastruktur, tetapi juga pada suasana sosial di sekitar stadion kebanggaan Arek Malang itu.

“Saya hanya ingin Kanjuruhan menjadi milik masyarakat, bukan sekadar kompleks olahraga,” tutur Lusiani yang menjabat Kabid Sarpras Dispora Kabupaten Malang 2 tahun 8 bulan itu, saat ditemui RRI, Jumat (14/11/2025).
Kanjuruhan, Dari Stadion Jadi Ruang Hidup Masyarakat

Saat pertama kali menjabat pada Mei 2023, Lusiani dihadapkan pada tantangan berat, bagaimana menghidupkan kembali fasilitas olahraga yang lama vakum dan tidak terkelola optimal. Ia memulainya dari hal sederhana, penataan operasional Kolam Renang Kanjuruhan.

Langkah itu membuka akses bagi masyarakat umum dan atlet Kabupaten Malang untuk kembali berlatih dan berekreasi di area stadion. Tidak berhenti di situ, Lusiani juga menghidupkan kembali GOR Kanjuruhan, yang kini rutin digunakan untuk event olahraga dan kegiatan sosial warga.

“Kami ingin area ini menjadi tempat berkumpul yang sehat, aman, dan penuh makna,” katanya dengan senyum.

Stadion Kanjuruhan mulai bangkit dari tragedi Kanjuruhan, kini dengan penampilan yang lebih tertata mampu, membangkitkan roda ekonomi dan hiburan bagi masyarakat.

"Demikian juga bagi keluarga korban tragedi bisa dengan leluasa memanjatkan doa di Musium Gate 13 dengan khidmat," ucap Lusiani.


Menata PKL dan Menghidupkan Car Free Day

Inovasi lain yang digagas Lusiani adalah penataan pedagang kaki lima (PKL) dengan pendekatan partisipatif. Ia mengajak mereka menjadi bagian dari konsep Car Free Day Kanjuruhan setiap Minggu pagi.

Program itu kini menjadikan kawasan Kanjuruhan sebagai ruang wisata rakyat, tempat keluarga berolahraga, berbelanja, dan berswafoto di spot-spot estetik seperti patung Singa Kanjuruhan yang ikonik.

“Dulu orang datang ke Kanjuruhan hanya untuk nonton bola. Sekarang, setiap minggu, kawasan ini hidup,” ujar seorang pengunjung, Zainul Arifin (44), warga Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen.

Warisan Estetika dan Semangat Kebersamaan

Bagi Lusiani, penataan kawasan bukan sekadar mempercantik ruang publik, tetapi juga membangun rasa memiliki di hati masyarakat. Ia menata kawasan stadion dengan sentuhan estetika yang ramah bagi semua usia.

Kini, setiap sudut Kanjuruhan tampak lebih bersih dan tertata, dengan spot-spot foto yang menjadi daya tarik baru.

“Kalau masyarakat nyaman, berarti kerja kami bermakna,” ucapnya singkat.

Langkah Baru di Dunia Agroindustri

Kini, Lusiani melangkah ke bidang baru, Agroindustri di Disperindagpasar Kabupaten Malang. Tantangannya berbeda, namun semangatnya tetap sama: melayani masyarakat dengan inovasi dan empati.

“Setiap tempat kerja adalah ladang pengabdian. Saya ingin membawa semangat kolaboratif seperti di Kanjuruhan ke sektor agroindustri,” tuturnya.

Di tengah perubahan birokrasi, sosok Lusiani meninggalkan pelajaran penting bahwa membangun daerah bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga menghidupkan ruang publik menjadi bagian dari kehidupan warga.

Rekomendasi Berita