Dirjen Bimas Islam Kemenag: KUA Harus Jadi Teras Depan Pelayanan kepada Umat
- 30 Agt 2026 10:17 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Surabaya - Para kepala bidang di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI berkumpul di Surabaya, Jawa Timur, selama dua hari pada 28-29 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membahas berbagai isu aktual kebimasislaman sekaligus mencari langkah baru menghadapi perubahan kebutuhan umat.
Sejumlah direktur di bawah naungan Bimas Islam hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut. Diskusi dipandu Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Hj. Lubenah, dengan agenda yang menyoroti berbagai persoalan dan tantangan dalam pelaksanaan program Bimas Islam.
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Prof. Abu Rokhmad, saat membuka kegiatan mengibaratkan Bimas Islam seperti pesawat Airbus berukuran besar dengan jumlah penumpang yang sangat banyak. Perumpamaan tersebut digunakan untuk menggambarkan besarnya cakupan tugas Bimas Islam yang membutuhkan koordinasi kuat antara pimpinan, pejabat dan jajaran di lapangan.
“Sebagai pilot pesawat yang tidak memiliki kaca spion, tentu memiliki sisi atau titik-titik blindspot yang tidak bisa melihat seluruh hal dan masalah yang ada di belakang, makanya di sinilah fungsi para co-pilot dan crew pesawat harus berfungsi lebih agresif,” ujar Abu Rokhmad di Surabaya, dilansir dari keterangannya, Minggu 30 Agustus 2026. Menurutnya, peran jajaran di bawah pimpinan menjadi penting agar berbagai persoalan umat yang tidak terlihat dari pusat dapat segera diketahui dan ditangani.
Abu Rokhmad juga mengingatkan agar besarnya struktur Bimas Islam tidak membuat lembaga tersebut kehilangan peran strategisnya dalam urusan agama dan keagamaan. Ia menyebut Penais, zakat dan wakaf, Urais, Jaminan Produk Halal, penyuluh agama, KUA hingga penghulu merupakan bagian penting dari ekosistem pelayanan Bimas Islam.
Dalam forum tersebut, para kepala bidang juga diminta lebih aktif menggali kemampuan dan kreativitas pegawai di tingkat bawah, terutama generasi muda atau Gen Z. “Manfaatkan dan gali potensi kreativitas para staf kita di bawah, utamanya yang muda-muda atau Gen Z, agar target-target kebimasislaman baik di tingkat pusat sampai di level terbawah bisa tercapai, bahkan kalau bisa melebihi target,” tegas Abu Rokhmad.
Menurutnya, pendekatan kepada Gen Z menjadi semakin penting karena dampak program Bimas Islam diharapkan dapat menjangkau masyarakat lintas generasi. Ia meminta indikator makro kebimasislaman tetap dijaga dengan tidak hanya mengejar capaian angka, tetapi juga memastikan kualitas program benar-benar dirasakan masyarakat, “tolong indikator-indikator makro kebimasislaman dijaga dan dipenuhi target-targetnya, bukan hanya kuantitas tapi juga kualitasnya,” pungkasnya.
Abu Rokhmad turut menyoroti posisi Kantor Urusan Agama atau KUA yang dinilai memiliki peran penting sebagai bagian terdepan pelayanan Kementerian Agama. Ia meminta agar KUA tidak dipandang sebagai tempat penempatan pegawai yang tidak memiliki peran strategis, tetapi justru menjadi ruang untuk menempatkan tenaga profesional yang cakap dan kreatif, “KUA itu teras depan Kemenag,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Penerangan Islam Ditjen Bimas Islam, Muchlis Muhammad Hanafi, menilai tantangan penerangan keislaman saat ini semakin kompleks seiring perubahan pola kehidupan masyarakat. Ia mengatakan program ke depan perlu dirancang agar mampu menjangkau kelompok muda, termasuk milenial dan Gen Z, “kebijakan penerangan keislaman saat ini memiliki tanggung jawab berat di tengah tantangan global yang semakin kompleks, karenanya ke depan program kita harus melibatkan dan menyasar kaum milenial atau Gen Z,” ujarnya.
Muchlis mengatakan masyarakat saat ini membutuhkan pendampingan dan advokasi keagamaan yang lebih dekat dengan persoalan sehari-hari. Tantangan seperti judi online, kecanduan game, informasi hoaks berbasis AI hingga penipuan online disebut menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian penyuluh agama, “umat kita saat ini sangat butuh pendampingan dan advokasi dari sisi keagamaan oleh para penyuluh agama kita di lapangan, bukan sekadar dengar ceramah,” katanya.
Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel yang mengikuti forum tersebut berharap pembahasan di Surabaya dapat melahirkan regulasi dan kebijakan yang lebih kuat dalam memperbaiki tata kelola Bimas Islam. Ia menilai kejelasan fungsi, struktur dan pembagian tugas diperlukan agar pekerjaan jajaran Bimas Islam di berbagai tingkatan dapat berjalan lebih terarah.
Mulyadi juga menyoroti kesejahteraan para petugas Bimas Islam yang bekerja langsung di tengah masyarakat. Menurutnya, para petugas tersebut selama ini menjadi garda terdepan dalam menjalankan berbagai fungsi sosial keagamaan sehingga membutuhkan dukungan tata kelola dan kesejahteraan yang memadai, “kami yakin bila urusan tata kelola dan kesejahteraan sudah mapan, maka seluruh target-target yang dicanangkan Kemenag di bawah Ditjen Bimas Islam bisa dipenuhi bahkan terwujud melebihi ekspektasi yang direncanakan,” ungkapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....