Makna Tazkiyatun Nafs dan Cara Mensucikan Jasad

  • 04 Jul 2026 21:20 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Setiap manusia memiliki dua potensi berlawanan dalam dirinya, yakni potensi kebaikan dan potensi keburukan. Pemahaman ini menjadi dasar penting dalam konsep tazkiyatun nafs atau penyucian diri dalam Islam.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag., dalam program Titian Ilahi RRI Pro 1 Makassar, Jumat 3 Juli 2026. Ia menjelaskan bahwa nafs merupakan diri manusia yang terdiri atas jasad dan roh.

"Tazkiyatun nafs itu adalah mensucikan ataukah membersihkan diri kita," ujar Rahmi Damis.

Ia merujuk pada Surah As-Syams yang menyebutkan bahwa Allah mengilhamkan kepada setiap jiwa manusia dua jalan, yakni fujur atau potensi keburukan dan takwa atau potensi kebaikan. Potensi kebaikan bersumber dari roh yang merupakan tiupan Allah, sedangkan potensi keburukan bersumber dari hawa nafsu yang melekat pada jasad.

Rahmi Damis membagi tingkatan jiwa manusia menjadi tiga, yaitu nafs mutmainah atau jiwa yang tenang, nafs lawwamah atau jiwa yang menyesal setelah berbuat dosa, dan jiwa yang sepenuhnya dikuasai hawa nafsu. Ia menyebut mayoritas umat Islam berada pada level nafs lawwamah, dan hanya jiwa yang mencapai level mutmainah yang akan dipanggil kembali oleh Allah dengan penuh keridaan.

Lebih lanjut, Rahmi Damis menjelaskan bahwa proses penyucian diri mencakup dua unsur, yakni lahiriah atau jasad dan batiniah atau hati. Ia menyebut pembersihan jasad dapat dilakukan dengan mudah menggunakan air, baik melalui mandi wajib maupun wudu, tergantung jenis hadas yang dialami.

"Beristigfarlah terhadap dosa-dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh kita, apakah itu mata, mulut, telinga, kaki, dan tangan," kata Rahmi Damis.

Ia menekankan bahwa anggota tubuh yang digunakan berwudu, seperti wajah, tangan hingga siku, dan kaki hingga mata kaki, merupakan bagian tubuh yang paling sering digunakan untuk berbuat dosa, sehingga niat saat berwudu penting untuk menggugurkan dosa dari anggota tubuh tersebut.

Untuk pembersihan batin, ia menjelaskan bahwa hati manusia rentan terserang penyakit seperti dengki, syirik, dendam, dan kesombongan. Menurutnya, satu-satunya pembersih hati yang diajarkan Rasulullah adalah zikrullah atau mengingat Allah, yang idealnya dilakukan setiap waktu tanpa henti.

Rahmi Damis juga menganjurkan umat Islam memperbanyak istigfar sebelum tidur agar seluruh dendam dan kesalahan kepada sesama manusia dapat dimaafkan lebih dulu.

"Nabi saja yang sudah maksum itu beristigfar tidak kurang antara tujuh puluh sampai seratus kali," ungkap Rahmi Damis.

Ia berpesan agar umat Islam meneladani nasihat Lukmanul Hakim, yakni melupakan keburukan orang lain sebesar apa pun dan selalu mengingat kebaikan orang lain meski sekecil apa pun, sebagai jalan menuju nafs mutmainah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....