Depresi Bukan Hanya Soal Kurang Ibadah, Psikiater Ungkap Empat Aspek Lainnya

  • 09 Agt 2026 18:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Depresi kerap dikaitkan secara sepihak dengan kurangnya keimanan seseorang di tengah masyarakat. Psikiater sekaligus rohaniwan Konghucu menegaskan anggapan itu keliru karena depresi melibatkan empat aspek yang saling berkaitan.

Psikiater Js. dr. Erwiani, Sp.KJ, memaparkan hal tersebut saat mengisi Mimbar Agama Konghucu di RRI Pro 1 Makassar dengan tema Kemerdekaan Jiwa Raga: Insan Beriman yang Merdeka dari Depresi, Sabtu, 8 Agustus 2026. Ia menjelaskan bahwa gangguan mood atau depresi adalah kondisi menurunnya suasana hati yang berlangsung dua minggu atau lebih, disertai hilangnya minat, kelelahan, dan berkurangnya energi pada aktivitas yang biasa dinikmati.

Dalam paparannya, Erwiani menjabarkan bahwa masyarakat sering keliru menganjurkan seseorang yang mengalami depresi untuk sekadar memperbanyak ibadah tanpa melihat akar masalah yang sesungguhnya. Menurutnya, pandangan seperti itu justru bisa memperberat kondisi pasien karena mengabaikan penyebab lain di luar aspek keimanan.

"Kalau kita berbicara mengenai depresif ini melibatkan empat aspek, yaitu aspek biologis, psikologis, sosial atau lingkungan, dan spiritual. Jadi aspek keimanan bukan satu-satunya hal yang membuat seseorang jatuh dalam gangguan mental seperti depresi," ujar Erwiani, sebagaimana disampaikan dalam dialognya.

Ia merinci, aspek biologis berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmiter otak seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin yang memengaruhi suasana hati dan motivasi. Aspek psikologis menyangkut pola pikir negatif dan ketahanan mental atau coping mechanism seseorang dalam menghadapi tekanan, sementara aspek sosial berhubungan dengan pengalaman traumatis di lingkungan keluarga maupun tempat kerja.

Erwiani mengutip ayat dari Kitab Mengzi jilid 7A ayat 1 yang menyebutkan bahwa memelihara hati dan merawat watak sejati adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Ia menegaskan bahwa merawat kesehatan jiwa dan pikiran termasuk dalam makna ayat tersebut, sehingga menjaga diri secara medis maupun psikologis sejatinya juga merupakan wujud bakti kepada Tian dan kedua orang tua.

Ia mengibaratkan keseimbangan antara ilmu dan iman sebagai dua sayap yang harus digunakan bersamaan agar seseorang bisa pulih secara utuh. "Ada dua sayap yang harus seimbang, yaitu aspek keilmuan dan aspek spiritual. Kalau seseorang hanya mengandalkan satu sayap saja, misalnya hanya aspek spiritual tanpa mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, dan sosial, itu akan susah terbang, bahkan bisa jatuh," katanya.

Erwiani menambahkan, doa dan usaha medis harus berjalan beriringan, bukan saling menggantikan. Ia mendorong pendengar yang mengalami gejala berat seperti gangguan tidur, gangguan makan, hingga psikosomatis untuk segera berkonsultasi ke psikolog maupun psikiater, bukan sekadar memperbanyak ritual keagamaan.

"Harus ada usaha dan doa. Kalau memang sudah ada gangguannya, harus berobat atau berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater, karena itu juga menjadi salah satu bentuk cara kita bersyukur dan berbakti kepada Tuhan," tegasnya.

Menurutnya, kesalahpahaman bahwa masalah kejiwaan identik dengan kurangnya ibadah justru dapat membuat penderita depresi enggan mencari pertolongan profesional. Ia berharap masyarakat, khususnya umat Konghucu, dapat memahami bahwa menjaga kesehatan jiwa dan raga adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan beriman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....