BI Dorong Hilirisasi Komoditas Perkuat Ekonomi Sulsel
- 27 Agt 2026 19:28 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, BALI - Penguatan ekonomi Sulawesi Selatan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi pertanian, kehutanan, dan perikanan. Nilai tambah yang lebih besar dinilai dapat tercipta apabila komoditas daerah terhubung dengan industri pengolahan, pasar, serta akses pembiayaan.
Arah tersebut menjadi salah satu rekomendasi yang disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, dalam Pelatihan Wartawan Sulsel 2026 yang digelar di Bali, Kamis (27/8/2026). Rizki mengungkapkan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih memiliki peran besar terhadap perekonomian Sulsel dengan kontribusi mencapai 23,01 persen. Sementara sektor industri pengolahan berada pada angka 12,91 persen.
“Sektor ini ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya menggali sumber pertumbuhan ekonomi baru dan mempercepat akselerasi pembangunan ekonomi Sulsel,” ujar Rizki.
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan komoditas unggulan daerah tidak berhenti pada aktivitas produksi. "Hasil pertanian dan perikanan perlu memiliki rantai nilai yang jelas, mulai dari sentra produksi, proses pengolahan hingga terserap pasar, "tambahnya.
BI Sulsel merekomendasikan penetapan sekitar tiga hingga lima rantai nilai komoditas prioritas yang memiliki basis produksi kuat sekaligus peluang pasar. Sejumlah komoditas yang dinilai potensial antara lain kakao, padi, jagung, perikanan dan rumput laut.
"Untuk memperkuat rantai tersebut, hubungan antara petani, nelayan, koperasi, agregator dan pembeli perlu dibangun secara lebih terstruktur. Konsolidasi produksi menjadi salah satu langkah agar hasil dari pelaku usaha tidak berjalan sendiri-sendiri ketika memasuki pasar, "tuturnya.
BI juga mendorong penerapan kontrak offtaker melalui koperasi maupun agregator. Skema ini diharapkan memberikan kepastian terkait volume produksi, kualitas, harga hingga jadwal pengiriman kepada pelaku usaha.
Selain berfungsi menghimpun produksi, koperasi dan agregator juga diharapkan mampu menangani proses grading, penyimpanan serta pemasaran. Dengan kelembagaan yang lebih kuat, posisi petani dan nelayan dalam rantai ekonomi diharapkan semakin baik.
Penguatan sektor hilir, lanjut Rizki, harus berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas di tingkat hulu. Pemerataan alat dan mesin pertanian, penggunaan benih unggul, penerapan teknologi serta pendampingan sesuai karakteristik daerah menjadi bagian yang perlu diperkuat.
Setelah produksi terkonsolidasi, industri pengolahan menjadi pengungkit untuk meningkatkan nilai tambah. Karena itu, BI mendorong penyiapan proyek hilirisasi yang layak secara bisnis dan memiliki prospek pembiayaan.
Di sisi pasar, produk lokal juga dituntut memenuhi standar kualitas. Peningkatan mutu, kemasan dan sertifikasi, termasuk SNI, halal dan HACCP, dinilai penting agar produk Sulsel mampu memperluas pasar domestik sekaligus menembus pasar ekspor.
Pengembangan industri juga perlu dibarengi kesiapan sumber daya manusia. BI mendorong adanya keterhubungan antara kebutuhan tenaga kerja industri dengan lembaga pendidikan vokasi dan Balai Latihan Kerja (BLK), serta memperkuat riset terapan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan dunia industri.
Sementara dari sisi permodalan, akses pembiayaan perlu diperluas melalui berbagai skema, seperti blended financing, kredit investasi, KUR dan pembiayaan syariah. Dukungan pembiayaan dinilai penting agar pengembangan usaha tidak terhenti ketika memasuki tahap pengolahan dan ekspansi pasar.
Pada akhirnya, strategi tersebut menempatkan produksi, konsolidasi, pengolahan, pembiayaan dan pemasaran sebagai satu kesatuan rantai ekonomi. Dengan pendekatan itu, pertumbuhan Sulsel diharapkan tidak hanya tercermin dari peningkatan volume produksi, tetapi juga dari semakin besarnya nilai tambah yang dinikmati sepanjang rantai ekonomi daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....