Persami Berbasis Seni Budaya di Gowa Tanamkan Cinta Budaya Lokal

  • 04 Agt 2026 13:56 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Gowa – Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) di Sanggar Seni Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, menghadirkan konsep berbeda dengan memadukan kegiatan kepramukaan dan pelestarian seni budaya Makassar. Kegiatan ini diikuti pelajar mulai tingkat SD hingga SMA. Pendiri Sanggar Seni Antara Nusantara, Indar Jaya, mengatakan Persami berbasis seni budaya menjadi wadah edukasi, literasi kebudayaan, sekaligus ruang pembentukan karakter generasi muda. Menurutnya, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

"Saya mengimpikan sanggar ini jadi wadah edukasi, literasi kebudayaan, dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Saya senang bila semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya," kata Indar Jaya di Gowa, Selasa (4/8/2026).

Indar menjelaskan konsep yang dikembangkan di sanggar merupakan perpaduan antara seni, budaya, dan pertanian atau agrobudaya. Sanggar yang berdiri pada 17 Juli 2025 itu didukung sejumlah seniman dan budayawan, di antaranya Haeruddin Daeng Nassa sebagai maestro Pasinrilik, Rahmat Soni Daeng Romo, Frans Yusuf, serta Muhammad Tahir M.

Selain menjadi pusat kegiatan seni, kawasan sanggar juga terintegrasi dengan budi daya ikan nila Insan Nusantara Gemilang. Di lokasi tersebut tersedia kolam bioflok, tambak ikan nila, pembibitan ikan, pakan ikan, azolla, hingga peternakan ayam kampung.

Indar mengatakan anak-anak diajak memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan positif dibandingkan menghabiskannya untuk bermain telepon genggam. Menurutnya, kepercayaan orang tua menjadi tanggung jawab utama pengelola sanggar.

"Terpenting itu, kita sama-sama menjaga kepercayaan yang diberikan orang tua. Itulah mengapa mereka senang di sini. Bahkan ada yang berasal dari desa tetangga, bukan hanya dari Maccini Baji," ujarnya.

Selama Persami, peserta mendapat pelatihan tari tradisional di bawah bimbingan seniman Frans Yusuf. Mereka mempelajari Tari Anging Mammiri dengan penekanan pada keselarasan gerak dan penghayatan makna tari. Frans Yusuf mengatakan penari tidak hanya dituntut menghafal gerakan, tetapi juga memahami filosofi setiap tarian.

Menurutnya, pembelajaran langsung dari pelatih akan membentuk karakter dan kualitas penari lebih baik dibandingkan hanya belajar melalui media sosial. "Anak-anak ini belajar dari nol. Mereka masih murni sehingga bagus dibentuk, terutama dalam menari tari tradisi," kata Frans.

Ia mencontohkan Tari Pattennung yang menggambarkan aktivitas penenun saat memasukkan benang ke lubang jarum. Karena itu, arah pandangan penari harus mengikuti gerakan tangan agar makna filosofis tari tersampaikan kepada penonton.

Sementara itu, peserta laki-laki mempelajari Tari Ganrang Bulo yang diawali dengan kisah kepahlawanan I Tolok Daeng Magassing dalam melawan VOC Belanda. Materi tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.

Nilai-nilai karakter juga ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari selama Persami. Peserta melaksanakan salat Magrib berjamaah, makan bersama, dan membangun kebersamaan selama mengikuti kegiatan.

Persami berbasis seni budaya ini bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal Makassar, mengembangkan kreativitas serta bakat anak, sekaligus mempererat silaturahmi antarpeserta. Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat mendukung pelestarian budaya daerah.

Meski baru berusia sekitar satu tahun, Sanggar Seni Antara Nusantara telah menyelenggarakan sejumlah kegiatan kebudayaan. Di antaranya Festival Permainan Tradisional Tingkat SD dan SMP bertema "Main Gembira Anak Nusantara" pada 23–28 Juli 2026 serta pembukaan Sekolah Sinrilik Angkatan I pada 2 Mei 2026 yang dihadiri Bupati Gowa, Dr. Sitti Husniah Talenrang, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX, Sinatriyo Danuhadiningrat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....