Sindikat Otak Plastik, Komunitas Seni yang Tumbuh dari Jaringan Pertemanan
- 18 Sep 2026 21:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Komunitas Sindikat Otak Plastik (SOP) didirikan pada 2023 berawal dari pertemanan sejumlah anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap seni, khususnya seni rupa. Faisal Kalawa, Founder Komunitas Sindikat Otak Plastik (SOP) dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar, edisi Kamis 18 September 2026 menuturkan, ide pembentukan SOP bermula ketika dirinya pulang dari Yogyakarta dan bertemu dengan Arnold, yang juga baru kembali dari kota tersebut. Keduanya kemudian memiliki inisiatif yang sama untuk membangun sebuah komunitas yang bergerak di bidang seni.
“Waktu itu saya pulang dari Jogja, kemudian bertemu teman yang namanya Arnold. Kebetulan dia juga baru pulang dari Jogja. Kami memiliki minat yang sama terhadap seni dan berinisiatif mendirikan sebuah komunitas”, ujar Faizal.
Faisal menambahkan gagasan tersebut kemudian berkembang dengan mengajak sejumlah teman lainnya. Arnold mengajak Rian dan Munir, sementara dirinya mengajak sejumlah alumni Universitas Negeri Makassar (UNM), termasuk Ikrar Mozart. Mereka kemudian sering bertemu, berdiskusi, dan bertukar gagasan hingga akhirnya sepakat membentuk komunitas seni rupa. Nama Sindikat Otak Plastik sendiri berasal dari gagasan Arnold. Menurutnya, nama tersebut dipilih karena terdengar unik dan memiliki makna yang terbuka untuk ditafsirkan.
Faisal memaknai “Otak Plastik” sebagai gambaran pemikiran yang terus bergerak dan berkembang. Seperti plastik yang bersifat elastis dan dapat dibentuk kembali, pemikiran dalam komunitas tersebut juga dianggap mampu berubah, berkembang, dan melahirkan bentuk-bentuk baru.
“Pemikiran itu bergerak dari satu pemikiran ke pemikiran yang lain. Seperti plastik yang elastis, bisa dibentuk ulang menjadi bentuk-bentuk yang baru”, jelas Faizal
Lebih lanjut Faisal menambahkan dalam perjalanannya, SOP terus mengalami perkembangan dan mendapatkan berbagai pengaruh dari lingkungan maupun pengalaman para anggotanya. Perubahan tersebut kemudian turut membentuk karya dan aktivitas komunitas.
“Ketertarikan terhadap seni menjadi salah satu alasan utama SOP memilih seni sebagai medium untuk merawat budaya. Namun, pemaknaan budaya yang digunakan komunitas tersebut tidak terbatas pada kesenian tradisional, seperti tari-tarian atau ritual yang telah berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun” ungkap Faisal.
Budaya dipandang sebagai keseluruhan cara hidup atau way of life (jalan hidup) masyarakat. Dengan pemahaman tersebut, berbagai aktivitas sehari-hari dapat dilihat sebagai bagian dari praktik kebudayaan, termasuk kegiatan yang dilakukan oleh komunitas seni. “Budaya itu bukan hanya sesuatu yang adiluhung, misalnya tari-tarian atau ritual. Budaya juga bisa dipahami sebagai keseluruhan cara hidup atau way of life,” tuturnya.
Dalam menjalankan berbagai kegiatannya, SOP juga mengandalkan semangat swadaya dari para anggotanya. Kegiatan komunitas tidak sepenuhnya bergantung pada sponsor, tetapi ditopang oleh kontribusi anggota sesuai kemampuan masing-masing. Pendanaan juga diperoleh dari hasil penjualan berbagai produk, seperti kaus, suvenir, serta produk kerajinan berupa wadah berbahan benang rajut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....