Makna Hijrah yang Hakiki: Bukan Sekadar Simbol, tetapi Perubahan Menyeluruh
- 20 Jun 2026 14:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Dari nilai-nilai dan ajaran Islam yang sebenarnya, masih terdapat sebagian masyarakat yang memahami bulan Muharram secara keliru, bahkan menganggapnya sebagai bulan yang sarat pantangan atau “bulan tacipi”, sehingga mereka enggan melakukan berbagai aktivitas, termasuk kegiatan seremonial yang pada dasarnya tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia UMI Darul Mukhlisin Padang Lampe - Pangkep, Dr. H. Wahyudin Hafid, Lc., M.A., dalam Obrolan Nuansa Fajar Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 19 Juni 2026, menjelaskan pemahaman hijrah harus dikembalikan pada nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan bulan Muharram dengan berbagai anggapan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam, seperti menganggapnya sebagai bulan yang tidak baik untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
"Di dalam Islam tidak ada istilah hari atau bulan sial. Muharram justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dan menjadi momentum untuk memperbaiki diri, setiap bulan memiliki kemuliaan masing-masing yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menjadikan bulan Muharram sebagai awal yang baik untuk meningkatkan amal ibadah, memperbanyak doa, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT," ujarnya dalam dialog Nuansa Fajar.
Ia menjelaskan hijrah dapat diwujudkan melalui beberapa aspek. Pertama, hijrah fikriah, yaitu perubahan cara pandang atau pola pikir terhadap kehidupan.
Menurutnya, seseorang harus mampu memandang harta, jabatan, dan berbagai nikmat yang diberikan Allah sebagai amanah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan.
"Keluasan rezeki maupun jabatan yang diberikan Allah hendaknya menjadi sarana untuk meningkatkan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat," kata Wahyuddin.
Kedua, hijrah amaliah, yakni perubahan dalam kualitas amal dan ibadah. Wahyudin mencontohkan, seseorang yang selama ini masih sering menunda salat hendaknya menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai awal untuk lebih disiplin melaksanakan salat tepat waktu, bahkan berjamaah di masjid bagi laki-laki. Selain itu, ia mengajak umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dari sekadar menjalankan kewajiban menuju pelaksanaan amalan-amalan sunnah yang dapat menyempurnakan keimanan.
"Hijrah bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi bagaimana kita meningkatkan kualitas ibadah dengan menambah amalan-amalan sunnah dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikannya sebagai kebiasaan yang konsisten dalam setiap aktivitas, sehingga nilai-nilai keIslaman tidak hanya hadir dalam ritual ibadah semata, tetapi juga tercermin dalam akhlak, sikap, dan perilaku sehari-hari yang lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. " jelasnya.
Aspek berikutnya adalah hijrah sulukiah, yaitu perubahan karakter dan perilaku dalam kehidupan sosial. Menurutnya, setiap individu perlu memperbaiki cara berinteraksi dengan orang lain, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat secara umum."Kita harus berupaya meninggalkan sifat-sifat negatif dan akhlak yang tidak terpuji, lalu menggantinya dengan akhlak mulia yang diridai Allah SWT," ujarnya.
Dalam dialog tersebut, Wahyudin juga menyoroti fenomena penggunaan istilah hijrah yang kerap hanya dipahami sebagai perubahan penampilan atau simbol-simbol keagamaan semata. Menurutnya, perubahan tersebut memang baik, tetapi hanya merupakan sebagian kecil dari makna hijrah yang sebenarnya.
"Hijrah yang hakiki adalah perubahan yang didasari niat karena Allah SWT dan berdampak nyata pada peningkatan kualitas ibadah serta hubungan sosial, setiap perubahan harus dilandasi niat yang ikhlas. Jangan sampai hijrah dilakukan hanya untuk mencari popularitas, pujian, atau kepentingan duniawi semata”, katanya.
Dengan demikian, hijrah yang hakiki hendaknya senantiasa dijadikan komitmen bersama untuk terus memperbaiki diri secara berkelanjutan, menjaga keikhlasan dalam setiap langkah perubahan, serta menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat hubungan harmonis dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....