Antama Balla', Tradisi Memasuki Rumah Baru Suku Bugis-Makassar
- 29 Jul 2026 11:14 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Memasuki hunian baru bagi masyarakat suku Bugis dan Makassar bukan sekadar perpindahan fisik tempat tinggal, melainkan sebuah peristiwa spiritual dan kultural yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Tradisi yang dikenal sebagai Antama Balla' (Makassar) atau Mappatettong/Mangngolo Bola (Bugis) ini memegang peranan krusial dalam merepresentasikan pandangan hidup kosmologis masyarakat Sulawesi Selatan terhadap rumah sebagai pusat keberadaan manusia.
Dikutip dari Obrolan Budaya di RRI Makassar, akademisi kebudayaan Dr. Muhammad Faisal, M.Pd., menjelaskan bahwa tradisi Antama Balla' telah mengakar kuat jauh sebelum ajaran Islam masuk ke Sulawesi Selatan. Rumah panggung tradisional dipahami sebagai sebuah miniatur alam semesta (mikrokosmos) yang terbagi secara harmonis menjadi tiga tingkatan utama, yakni dunia atas (botting langi), dunia tengah (ale bola/balla), dan dunia bawah (suli watang).
Dunia bawah mewakili fondasi kehidupan ekonomi tempat penyimpanan hewan ternak serta alat pertanian, dunia tengah menjadi panggung utama aktivitas harian keluarga, sementara dunia atas disakralkan sebagai tempat perlindungan. Falsafah ini menempatkan rumah bukan hanya sebagai pelindung fisik dari panas dan hujan, melainkan juga simbol perjalanan hidup manusia mulai dari lahir, tumbuh dewasa, menikah, hingga menghembuskan napas terakhir.
Prosesi Antama Balla' diawali dengan penentuan hari baik oleh seorang Panrita Balla (pawang/ahli rumah adat) untuk memastikan keharmonisan penghuni dengan alam lingkungan sekitarnya. Setelah itu, dilaksanakan ritual Pasilia atau penyucian rumah, di mana kepala keluarga memimpin jalan mengelilingi rumah diikuti sang istri yang membawa kelapa dan gula merah, serta anak-anak mereka sebagai lambang keutuhan dan pilar rumahtangga.
Berbagai perlengkapan syarat adat (sarana) disiapkan dalam prosesi ini, seperti kue umba-umba dari tepung beras, kelapa, dan gula merah yang merepresentasikan doa agar kehidupan penghuninya senantiasa manis dan bahagia. Tak ketinggalan, dedaunan khusus seperti daun rappocidu, beras sangrai (benno), serta taimani (lilin dari sarang lebah) dihadirkan sebagai simbol penerangan dan harapan keberkahan yang berlimpah.
Seiring berjalannya waktu dan masuknya ajaran Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke-17, tradisi ini mengalami proses akulturasi kebudayaan (hybrid culture) yang semakin menyempurnakan maknanya. Praktik pembacaan mantram kuno atau tutur I La Galigo kini diperkaya dengan pembacaan Barzanji, doa salawat, dan penguatan nilai-nilai tauhid, menggeser kesan mistis kuno menjadi bentuk kesyukuran mendalam kepada Sang Pencipta.
Budayawan Dr. Azis Nojeng, M.Pd - Budayawan menegaskan bahwa nilai-nilai kearifan lokal dalam Antama Balla' tetap relevan diterapkan hingga masa kini, meski struktur rumah telah bergeser dari kayu panggung menjadi bangunan beton modern. Tradisi ini diakhiri dengan ritual angnganre-angnganre (makan bersama tetangga), yang menjadi pilar perkat rasa kebersamaan, gotong royong, serta tali silaturahmi antarwarga masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....