Akulturasi Nilai Tauhid dan Kearifan Lokal dalam Tradisi Antama Balla'

  • 29 Jul 2026 11:31 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Dinamika zaman dan derasnya arus modernisasi kerap kali mengikis batas-batas kearifan lokal di tengah kehidupan masyarakat urban. Namun, tradisi Antama Balla' atau ritual memasuki rumah baru pada suku Bugis dan Makassar terbukti mampu bertahan dan beradaptasi melalui akulturasi budaya yang harmonis antara nilai-nilai spiritual keagamaan dan tradisi luhur nenek moyang.

Dilansir dari Obrolan Budaya RRI Makassar, Dr. Muhammad Faisal, M.Pd., Antropolog budaya menyampaikan bahwa perjumpaan budaya lokal dengan ajaran Islam menciptakan transformasi nilai yang sangat signifikan. Tradisi Antama Balla' tidak lagi dipandang sebagai praktik mistisisme semata, melainkan telah bertransformasi menjadi manifestasi tauhid dan ungkapan rasa syukur atas rezeki tempat bernaung yang diberikan oleh Tuhan.

Penyempurnaan tradisi ini terlihat dari pergeseran simbol-simbol ritual yang dahulunya diperuntukkan bagi penghormatan roh halus, kini berorientasi pada nilai gotong royong dan kesetiakawanan sosial. Penggunaan wewangian atau dupa yang dahulu identik dengan kegaiban, kini dimaknai secara rasional sesuai nilai kebersihan dan kesegaran ruangan agar penghuni serta tamu yang datang merasa nyaman.

Budayawan Dr. Azis Nojeng, M.Pd menambahkan bahwa setiap peranti yang digunakan dalam prosesi Antama Balla' memiliki narasi filosofis yang mendalam tentang tatanan keluarga. Kehadiran kelapa dan gula merah yang dibawa oleh seorang istri saat mengitari rumah melambangkan peran sentral perempuan sebagai sumber kesejukan, manisnya hubungan, dan penopang keharmonisan rumahtangga.

Selain itu, tradisi unik membersihkan kaki di gentong air (panyangngalang/baraning) di depan tangga sebelum memasuki rumah merupakan bukti otentik bahwa leluhur Bugis-Makassar telah menerapkan standar kebersihan tinggi jauh sebelum konsep sanitasi modern dipopulerkan. Rumah dijadikan ruang steril, baik secara lahiriah maupun batiniah, dari segala persoalan dan keburukan dari luar.

Di era milenial saat ini, tantangan utama pelestarian Antama Balla' terletak pada pemahaman generasi muda terhadap substansi nilai, bukan sekadar bentuk fisik bangunan semata. Meski sebagian besar masyarakat modern kini menempati rumah tembok atau perumahan komersial, esensi doa, kesucian niat, dan penghormatan terhadap ruang domestik keluarga tetap wajib dijaga dan dirawat.

Melalui penguatan tradisi Antama Balla', rumah dikembalikan pada fungsi hakikinya sebagai Baiti Jannati (rumahku surgaku) sekaligus tempat pembentukan karakter dan penyelesaian konflik sosial secara kekeluargaan. Pelestarian kearifan lokal ini diharapkan terus berlanjut agar nilai-nilai luhur penuntun hidup milik nenek moyang Bugis-Makassar tidak sirna ditelan perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....