Masih Rugi Harga Saham Naik, Manajemen AYAM Menjawab
- 03 Des 2025 09:26 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : PT Janu Putra Sejahtera Tbk. (AYAM) menghadapi momen yang penuh paradoks di mata investor. Meskipun Perseroan mencatatkan kerugian pada Kuartal III tahun 2025, pergerakan harga sahamnya justru menunjukkan tren kenaikan.
Dalam Laporan Hasil Pelaksanaan Public Expose Insidentil yang digelar pada Senin, 1 Desember 2025, manajemen AYAM menjawab langsung pertanyaan kritis dari para investor mengenai diskrepansi ini dan strategi ambisiusnya untuk tahun 2026.
Menanggapi pertanyaan tajam mengenai kenaikan harga saham di tengah kinerja yang masih merugi, manajemen Perseroan bersikap hati-hati namun tegas, menekankan bahwa pergerakan harga saham sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar.
"Pergerakan harga saham sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar dan pelaku pasar dapat memiliki penilaian masing-masing terhadap perkembangan industri, arah kebijakan pemerintah, dan prospek sektor poultry secara umum," ujar perwakilan manajemen.
Baca juga: Ini Strategi Pendanaan Ekspansi RATU di Masa Depan
Pandangan ini mengindikasikan bahwa para pelaku pasar mungkin telah mengantisipasi perbaikan kinerja yang didorong oleh prospek sektor yang lebih luas, termasuk dukungan kebijakan pemerintah dan inisiatif stabilisasi harga.
Manajamen mengakui bahwa kerugian di Kuartal III 2025 disebabkan oleh fluktuasi harga jual di pasar sepanjang Januari hingga Agustus 2025 yang berada jauh di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP).
Untuk menghadapi tantangan pasar di tahun 2026, PT Janu Putra Sejahtera mengumumkan pergeseran strategis yang signifikan.
Fokus Perseroan akan diarahkan pada unit usaha yang dinilai lebih stabil dan berpotensi memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar, yaitu bisnis layer komersial (ayam petelur) dan penguatan kapasitas breeding.
Baca juga: Alasan RATU Punya Dua Orang Berlatar Belakang Akuntansi
Pergeseran fokus ini mulai diimplementasikan sejak semester akhir 2025. Unit usaha layer dianggap krusial karena kontribusinya yang stabil dan meningkatnya kebutuhan telur nasional. Selain itu, arah kebijakan pemerintah, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan memicu lonjakan permintaan protein hewani, menjadi momentum besar bagi Perseroan di tahun 2026-2027.
Fokus pada segmen ending yang selaras dengan program pemerintah ini akan menjadi prioritas.
Dalam pemaparan rencana keuangan, AYAM merencanakan belanja modal atau Capital Expenditure (CAPEX) yang terukur untuk tahun 2026.
- Total Alokasi: Sekitar Rp130 miliar.
- Target Penyerapan: Dana tersebut akan diarahkan terutama pada pengembangan unit layer komersial dan peningkatan kapasitas breeding.
- Rencana Pembangunan: Awalnya merencanakan pembangunan hatchery di dekat Ibu Kota Negara (IKN), Perseroan kini memutuskan untuk membangun hatchery di Kulonprogo/DIY pada tahun 2026 untuk mendukung breeding dan Grand Parent Stock (GPS). Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi final stock dan parent stock DOC.
Terkait sumber pendanaan, Perseroan memilih pendekatan yang tidak membebani neraca secara berlebihan. Pendanaan CAPEX Rp130 miliar direncanakan melalui kombinasi:
- Kerja sama strategis.
- Pemanfaatan alokasi laba bersih secara bertahap.
Baca juga: Manajemen YUPI: Kinerja Perseroan Solid
Manajemen menekankan prinsip kehati-hatian dalam pendanaan dan juga akan mengandalkan peningkatan efisiensi di unit yang sudah ada (existing unit).
Target CAPEX sebesar Rp130 miliar ini dinilai realistis, namun tetap menantang dan bergantung pada stabilitas harga ayam dan DOC nasional. Perseroan optimis mampu memenuhi kebutuhan Program MBG, baik di tahun 2026 maupun 2027.
Disclaimer: bukan ajakan jual/beli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....