Mengapa Wanita Lebih Mudah Patah Hati

  • 23 Agt 2025 19:58 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Menurut penelitian global yang melibatkan 5.705 responden dari 96 negara, wanita mengalami patah hati dengan intensitas emosional dan fisik yang lebih tinggi dibanding pria: skor rata-rata wanita untuk penderitaan emosional mencapai 6,84, sedangkan pria hanya 6,58; sakit fisik rata-rata 4,21 vs. 3,75. Meski demikian, wanita cenderung pulih secara penuh setelah putus cinta, sedangkan pria “hanya pulih”, tanpa benar-benar kembali ke keadaan semula.

Penjelasan biologis muncul dari evolusi: wanita secara biologis memiliki investasi yang lebih besar dalam hubungan—misalnya risiko kehamilan dan pengasuhan—sehingga pemutusan hubungan dengan pasangan berkualitas bisa terasa lebih menyakitkan.

Aspek sosiologis juga memainkan peran. Wanita lebih sering dibesarkan dengan dorongan untuk mengekspresikan emosi dan mencari dukungan sosial, sementara pria diajarkan untuk menahan perasaan. Ini membuat wanita lebih terbiasa mengungkapkan kesedihan melalui curahan hati, terapi, atau self-care, yang membantu proses penyembuhan emosi. Sebaliknya, pria lebih cenderung menahan perasaan atau mengalihkannya dengan kerja, alkohol, atau hubungan baru.

Namun, penelitian terbaru menyajikan pandangan kontras. Studi dari Humboldt University of Berlin menunjukkan bahwa sesungguhnya pria lebih terpukul oleh perpisahan dibanding wanita. Sebab, pria lebih bergantung pada hubungan romantis sebagai sumber dukungan emosional, sementara wanita memiliki jaringan sosial yang lebih luas. Hal ini mengubah persepsi umum: bukan semata-mata wanita yang "lebih mudah patah hati", tetapi pria mungkin merasakan dampaknya lebih berat dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, perbedaan gender dalam menghadapi patah hati tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Wanita mungkin merasakan dampaknya lebih intens secara emosional dan fisik, tetapi dukungan sosial dan kemampuan ekspresi emosional sering kali mempercepat pemulihan mereka. Sementara itu, memang ada bukti bahwa pria bisa mengalami beban emosional yang lebih berat—terutama jika mereka tidak memiliki sistem pendukung yang memadai. Dengan demikian, kesadaran terhadap perbedaan ini bisa mendorong pemahaman dan pendekatan yang lebih empatik bagi semua pihak dalam menghadapi patah hati.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....