Sad Clown Paradox, Orang Humoris Punya Masalah Mental?
- 19 Jul 2025 14:05 WIB
- Cirebon
KBRN, Cirebon: Sad clown paradox atau paradoks badut sedih adalah istilah yang menjelaskan keterkaitan antara orang-orang yang sangat lucu justru memiliki masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Hal ini erat dengan ungkapan orang yang sering tertawa adalah orang yang memendam kesedihan. Atau orang humoris sebenarnya adalah orang yang depresi.
Dikutip dari IFL Science, sebuah buku berjudul Pretend the World Is Funny and Forever: A Psychological Analysis of Comedians, Clowns, and Actors oleh Seymour dan Rhoda Fisher memuat pernyataan bahwa para ilmuwan menemukan individu yang paling lucu sering kali berasal dari latar belakang sosial-ekonomi yang lebih rendah.
Buku tersebut menjelaskan bahwa kemungkinan saat seseorang menjadi 'badut kelas' di sekolah, hal tersebut adalah sebuah cara untuk mengatasi stres dan kecemasan. Sebuah studi terhadap komedian amatir di usia sekolah juga menyebut terdapat sebuah pola unik dalam hubungan keluarga orang humoris.
Menurut studi ini, biasanya orang humoris seperti komedian memiliki hubungan positif dengan ayahnya, sementara sosok ibu bagi orang humoris biasanya adalah orang yang kritis, agresif, dan tidak keibuan.
Secara ilmiah, humor kini diakui sebagai salah satu kekuatan karakter. Dalam ilmu psikologi positif, yakni ilmu psikologi yang meneliti aspek-aspek terbaik dalam diri manusia, disebutkan bahwa humor dipandang sebagai sarana untuk membahagiakan orang lain, membangun kedekatan, dan meredakan stres.
Seringkali selera humor lahir sebagai cara untuk bertahan dari masa lalu yang rumit. Namun, memiliki sifat humoris tidak selalu membuat seseorang terbebas dari beban mental cerita masa lalunya.
Karena humor adalah sarana untuk membangun kedekatan, humor dikaitkan sebagai cara untuk mendapat penerimaan. Hal yang seringkali sulit didapat oleh orang yang memiliki masalah mental.
"Membuat orang lain tertawa adalah cara yang bisa diandalkan dan efisien untuk disukai oleh orang lain," kata ahli saraf Dean Burnett dikutip dari BBC Science Focus, Sabtu (19/7/2025).
Secara logika, ini bisa jadi cara untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain. Mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental pun cenderung lebih mahir dalam humor karena seringnya mereka menggunakan cara itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....