"Sindrom Stecu", Menggemparkan Media Sosial Anak Muda

  • 16 Apr 2025 11:01 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Ada yang baru dan sedang ramai diperbincangkan di kalangan anak muda: "Stecu." Istilah ini muncul bagai kilat dan langsung mencuri perhatian, bahkan memunculkan istilah "Sindrom Stecu" karena penyebarannya yang begitu cepat. Bagi sebagian orang mungkin terdengar asing, namun bagi generasi muda, "Stecu" seolah menjadi bahasa sehari-hari. Lantas, apa sebenarnya arti dan daya tarik di balik "Sindrom Stecu" ini. Apa itu stecu? Stecu adalah singkatan dari "Setelan Cuek" dimana arti yang paling populer dan banyak digunakan saat ini, terutama setelah viralnya lagu "Stecu" yang dipopulerkan oleh penyanyi Faris Adam.

Dilansir dari laman video tiktok @majesty.co.id, melalui lagunya, penyanyi menyampaikan pesan kepada para wanita agar tidak bersikap terlalu acuh atau dingin jika memang memiliki perasaan yang serupa dengan si pria. Ia menyiratkan harapan agar wanita tersebut lebih terbuka dan tidak menyembunyikan perasaannya di balik sikap cuek atau malu-malu yang terkesan menolak.

Daya tarik lagu "Stecu" inilah yang kemudian membuatnya menjadi "sindrom". Di kalangan masyarakat luas lagu "Stecu" dapat dianalisis dari beberapa aspek:

1. Lirik yang Relatable dan Catchy:

• Dinamika PDKT Gengsi: Lirik lagu ini secara sederhana menggambarkan dinamika hubungan asmara anak muda zaman sekarang, terutama dalam fase pendekatan (PDKT) yang seringkali diwarnai dengan rasa gengsi dan tarik ulur. Banyak pendengar, terutama generasi muda, merasa relate dengan situasi di mana seseorang menyukai namun bersikap cuek ("stecu") untuk menguji keseriusan atau menyembunyikan perasaannya.

• Bahasa yang Santai dan Mudah Diingat: Penggunaan bahasa gaul, termasuk akronim "Stecu" ("Setelan Cuek") dan bahasa Indonesia Timur yang khas, memberikan kesan santai, akrab, dan mudah diingat. Lirik-lirik seperti "Kalo memang cocok bisa datang ke rumah" menjadi catchphrase yang mudah dikutip dan digunakan dalam berbagai konteks media sosial.

2. Musik yang Enerjik dan "Goyangable":

• Irama yang Membuat Ingin Bergerak: Melodi lagu yang catchy dan ritme yang upbeat secara alami mendorong pendengar untuk bergerak dan berjoget. Hal ini sangat mendukung tren dance challenge yang populer di platform seperti TikTok.

• Perpaduan Unsur Musik: Kemungkinan adanya perpaduan unsur musik modern dengan sentuhan khas Indonesia Timur memberikan keunikan tersendiri yang membedakan lagu ini dari lagu-lagu pop mainstream lainnya.

3. Fenomena "Stecu" sebagai Ekspresi dan Identitas:

• Representasi Sikap Kekinian: Istilah "Stecu" sebagai "Setelan Cuek" menjadi representasi sebuah sikap atau gaya hidup yang populer di kalangan Gen Z. Bersikap "cuek" namun tetap memiliki daya tarik kasual dianggap sebagai tren yang keren dan autentik.

• Alat Komunikasi dan Identifikasi Kelompok: Penggunaan istilah "Stecu" dalam lagu dan di media sosial menjadi semacam kode atau bahasa gaul yang mengidentifikasi seseorang sebagai bagian dari tren dan komunitas tertentu.

4. Dukungan dan Penyebaran di Media Sosial:

• TikTok sebagai Katalisator Utama: Platform TikTok dengan format video pendek dan algoritmanya yang kuat sangat berperan dalam menyebarkan lagu ini secara masif. Penggunaan lagu sebagai backsound untuk berbagai jenis konten (dance, sketsa, storytelling) memperluas jangkauan pendengar.

• Challenge dan Tren yang Muncul: Kepopuleran lagu ini memicu berbagai challenge dan tren kreatif di media sosial, seperti dance challenge "Stecu Stecu" dan penggunaan lirik lagu dalam konten-konten yang berhubungan dengan PDKT atau hubungan asmara. Ini semakin meningkatkan visibilitas dan keterlibatan masyarakat dengan lagu tersebut.

• "Relatability" yang Memicu Konten: Banyak pengguna media sosial membuat konten yang menunjukkan betapa "relate"-nya mereka dengan lirik lagu, terutama yang menggambarkan dinamika PDKT yang penuh kode dan gengsi. Hal ini semakin memperkuat "sindrom" lagu ini di masyarakat.

Lalu mengapa disebut "Sindrom"? Penggunaan istilah "sindrom" di sini lebih bersifat kiasan untuk menggambarkan fenomena yang meluas dan menunjukkan gejala atau karakteristik tertentu yang diikuti oleh banyak orang. Dalam konteks lagu "Stecu," "sindrom" ini merujuk pada:

Ketertarikan dan kegemaran yang masif terhadap lagu tersebut.

Penggunaan kata "Stecu" dan konsep "Setelan Cuek" dalam percakapan sehari-hari dan konten media sosial.

Munculnya berbagai tren dan challenge yang terinspirasi dari lagu tersebut.

Adanya perasaan "relate" yang kuat di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap tema dan lirik lagu.

Dengan kata lain, daya tarik lagu "Stecu" terletak pada kombinasi lirik yang relatable, musik yang catchy, representasi gaya hidup kekinian, dan dukungan kuat dari media sosial yang menciptakan sebuah fenomena atau "sindrom" di kalangan masyarakat luas

(Sumber : Indry_UGJCirebon,pelita online, video platform tiktok @majesty.co.id, Gemini)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....