Tradisi Cap Go Meh, Penutup Perayaan Imlek

  • 06 Feb 2025 09:27 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Cap Go Meh merupakan perayaan yang menandai hari ke-15 dan menjadi hari terakhir dari perayaan Tahun Baru Imlek. Perayaan ini dirayakan oleh etnis Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkian yang berarti 15 malam, dan dilambangkan dengan bulan purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek. Perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh etnis Tionghoa, tetapi juga menjadi perayaan yang menarik bagi masyarakat umum. Hal ini dikarenakan perayaan Cap Go Meh menyuguhkan berbagai macam tradisi dan pertunjukan yang menarik, seperti lampion, barongsai, hingga makanan khas lontong Cap Go Meh.

Hal tersebut disampaikan pula oleh seorang budayawan Tionghoa asal Cirebon, bapak Jeremi Huang Wijaya.

”Perayaan Cap Go Me adalah perayaan penutup rangkaian acara Imlek, Cap Go artinya lima belas, Me artinya hari jadi Cap Go Me adalah hari ke 15 sesudah Imlek. Perayaan Cap Go Meh lebih meriah dibandingkan Tahun Baru Imlek. Di Tiap negara warga Tionghoa merayakan tradisi yang berbeda, di Hongkong, China, Taiwan dan Singapura merayakan Cap Go Me diselenggarakan dengan membawa lampion keliling kota, kemudian nyanyi makan bersama. Karena pada hari ke enam belas mereka yang berasal dari perantauan kembali ke kota dan daerahnya masing-masing,” ujar Jeremi Huang Wijaya kepada RRI, Kamis (5/2/2025) sore.

Lantas, bagaimana sejarah dan makna perayaan Cap Go Meh?

Asal-usul Cap Go Meh tidak terlepas dari perayaan Tahun Baru Imlek. Pada zaman Dinasti Han, seorang kaisar bernama Han Ming Ti mendapat utusan dari kerajaan di barat. Utusan itu membawa ajaran dan patung Buddha untuk pertama kalinya di Tiongkok. Pada tanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek, sang kaisar menyuruh menyalakan lampion di istana dan kuil-kuil untuk menghormati Sang Buddha. Sejak saat itu, perayaan ini menjadi tradisi yang disebut Festival Lampion atau Yuan Xiao Jie.

Perayaan ini kemudian berkembang dan menjadi perayaan yang meriah dengan berbagai kegiatan, seperti menonton lampion, makan tangyuan (bola-bola ketan), dan berbagai pertunjukan seni. Tradisi ini kemudian dibawa oleh perantau Tionghoa ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, perayaan ini dikenal dengan sebutan Cap Go Meh.

Sementara itu di beberapa wilayah di Indonesia, perayaan Cap Go Meh, juga dilakukan dengan ragam kegiatan, dan salah satunya adalah arak-arakan patung dewa-dewa, sebagai simbol banyak permohonan umatnya. Hal tersebut disampaikan pula oleh bapak Jeremi Huang Wijaya, budayawan Tionghoa asal Cirebon.

”Di Indonesia dirayakan dengan Pengarakan Kim Sin dan Rupang Toa Pe Kong, jadi Rupang Toa Pe Kong duduk di kursi diarak keliling kota, biasanya yang diarak keliling yaitu Kwan Kong Simbol keamanan, Dewi Kwan Im simbol welas asih, Dewa Bumi, Dewi Laut, dan banyak Dewi lainnya umumnya 4 Dewi yang diarak keliling kota sebagai simbol memohon perlindungan, kedamaian keamanan, hasil tanah dan hasil laut berlimpah dipenuhi kasih sayang. Tradisi tersebut awal mulanya berasal dari masyarakat Tionghoa yang Tinggal di Pantai Utara Jawa seperti Tegal, Jepara, Cirebon, Semarang, Tangerang Banten, Pekalongan, Singkawang, Tuban Pati dan Demak. Sore harinya makan lontong Cap go Me isinya sayur waluh, kuah kari ayam, emping melambangkan keragaman dalam kegemilangan dan kesatuan. Awalnya dari pesisir pantai utara Jawa yaitu Semarang, Juwana, Kudus, Pekalongan, dan Tegal kemudian menyebar,” ujarnya.

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa dan budaya lokal. Hal ini menjadikan perayaan Cap Go Meh di Indonesia semakin unik dan menarik untuk disaksikan. Beberapa tradisi yang umum dilakukan saat Cap Go Meh antara lain: menyalakn lampion, pertunjukan Barongsai hingga hidangan bernama lontong Cap Go Me, yang merupakan hidangan khas yang disajikan saat perayaan Cap Go Meh. Dimana hidangan ini memiliki makna simbolis, yaitu harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Secara umum, Cap Go Meh merupakan simbol kebersamaan, kebahagiaan, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru, waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat serta menjadi momen untuk berdoa dan memohon keberuntungan di tahun yang akan datang. Selain itu, Perayaan Cap Go Meh memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Tionghoa.

(Sumber: Jeremy Huang Wijaya, sumber lainnya)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....