Gempa Susulan Ganggu Perkuliahan, Mahasiswa Uniflor Kini Kuliah Hanya 30 Menit
- 28 Sep 2026 20:41 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Aktivitas perkuliahan mahasiswa Universitas Flores (Uniflor) belum sepenuhnya berjalan normal pascagempa yang mengguncang Flores. Gempa susulan yang masih terjadi membuat mahasiswa dan dosen harus menyesuaikan proses pembelajaran, termasuk memangkas durasi perkuliahan dari yang sebelumnya berlangsung dua hingga tiga jam menjadi sekitar 30 menit hingga satu jam.
Mahasiswa Universitas Flores, Maria Erwinda Uma, mengatakan gempa susulan dengan intensitas yang tidak sebesar gempa pada 15 Agustus tetap menimbulkan kepanikan di lingkungan kampus. Menurut Maria, kondisi tersebut membuat dosen mengambil langkah antisipasi dengan mempersingkat waktu perkuliahan.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko apabila gempa susulan kembali terjadi ketika proses belajar mengajar berlangsung. “Biasanya jadwal setiap mata kuliah berlangsung selama dua sampai tiga jam. Namun untuk mengantisipasi dan berjaga-jaga terhadap gempa susulan, bapak atau ibu dosen memotong dan mempersingkat jadwal perkuliahan menjadi 30 menit sampai satu jam,” ujar Winda, sapaan akrabnya.
Tidak hanya memengaruhi durasi kuliah, gempa susulan juga berdampak langsung terhadap konsentrasi dan rasa aman mahasiswa selama berada di ruang kelas. Winda mengatakan mahasiswa masih mengalami kepanikan karena gempa susulan terus terjadi.
Kondisi tersebut semakin terasa ketika guncangan terjadi saat kegiatan perkuliahan sedang berlangsung. Dalam situasi tersebut, mahasiswa secara spontan meninggalkan ruang kelas untuk menyelamatkan diri. Akibatnya, proses belajar mengajar terhenti.
“Dengan penuh kepanikan, mahasiswa langsung meninggalkan ruang kelas. Oleh karena itu, proses perkuliahan menjadi terganggu,” katanya.
Kondisi ini membuat aktivitas akademik harus berjalan dengan pola yang berbeda dari situasi normal. Dosen tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga mempertimbangkan kondisi psikologis mahasiswa dan kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Winda menjelaskan, dari sisi fasilitas, Universitas Flores tidak mengalami kerusakan yang terlalu besar sehingga fasilitas kampus masih dapat digunakan untuk kegiatan perkuliahan. Namun, keberadaan fasilitas yang masih dapat digunakan belum sepenuhnya membuat proses pembelajaran kembali normal.
Rasa cemas akibat gempa susulan menjadi persoalan tersendiri bagi mahasiswa. Selain kepanikan, sebagian mahasiswa juga mengalami trauma akibat gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus dan rangkaian gempa susulan setelahnya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa terhadap pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan gedung atau sarana pembelajaran. Gangguan terhadap rasa aman dan kondisi psikologis mahasiswa juga dapat memengaruhi keberlangsungan proses belajar mengajar.
Bagi mahasiswa Universitas Flores, proses pembelajaran pascagempa kini berlangsung dalam situasi yang penuh kewaspadaan. Perkuliahan tetap berjalan, tetapi durasi dan pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Pemangkasan durasi kuliah menjadi salah satu bentuk adaptasi sementara terhadap situasi tersebut. Di sisi lain, ketika gempa susulan terjadi, prioritas mahasiswa dan dosen berubah dari mengikuti pembelajaran menjadi memastikan keselamatan.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana bencana dapat mengubah aktivitas pendidikan secara langsung. Bahkan ketika bangunan kampus masih dapat digunakan, proses pembelajaran tetap dapat terganggu ketika mahasiswa belum merasa sepenuhnya aman.
Bagi mahasiswa Uniflor, harapannya bukan hanya agar aktivitas perkuliahan kembali berlangsung seperti biasa, tetapi juga agar kondisi pascagempa segera pulih sehingga mereka dapat belajar dengan rasa aman dan nyaman. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....