SMA Negeri 1 Lobalain Perkuat Budaya Sekolah Bebas Perundungan

  • 18 Sep 2026 14:26 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • SMA N 1 Lobalain mengadakan kegiatan Anti Perundungan pada Sabtu, 12 September 2026 di Aula sekolah dengan tema menciptakan budaya sekolah yang aman, peduli, dan bebas perundungan.
  • Kegiatan melibatkan seluruh pengurus Agen Anti Perundungan sekolah dan berlangsung selama dua jam dari pukul 10.00 hingga 12.00 WITA.
  • Martha Yanti Teuf, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Guru BK, tampil sebagai pemateri dalam kegiatan anti perundungan tersebut.

RRI.CO.ID, Rote - SMA N 1 Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, memperkuat komitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas perundungan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Anti Perundungan di Aula SMA N 1 Lobalain, Sabtu, 12 September 2026.

Kegiatan berlangsung pukul 10.00 hingga 12.00 WITA dengan mengusung tema “Menciptakan Budaya Sekolah yang Aman, Peduli dan Bebas Perundungan”. Kegiatan diikuti seluruh pengurus Agen Anti Perundungan SMA N 1 Lobalain dengan menghadirkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana sekaligus Guru BK, Martha Yanti Teuf, S.Pd., sebagai pemateri.

Dalam pemaparannya, Martha menekankan pentingnya peran Agen Anti Perundungan sebagai mata dan telinga bagi teman sebaya. “Setiap anggota wajib menjadi mata dan telinga bagi teman sebaya dalam menciptakan budaya sekolah yang aman, peduli, dan bebas dari perundungan,” ujar Martha.

Menurut Martha, anggota Agen Anti Perundungan perlu membangun budaya saling berempati, peduli, dan menghargai perbedaan di lingkungan sekolah. Agen juga berperan memberikan informasi dan edukasi mengenai bahaya perundungan, kekerasan, serta penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Selain itu, anggota diminta mampu mengenali, melihat, mendengar, dan mendata berbagai kejadian perundungan untuk dilaporkan kepada pihak berwenang. Mereka juga diharapkan menjadi teman bagi korban dengan memberikan dukungan, perhatian, dan rasa aman agar korban tidak menghadapi persoalannya seorang diri.

Martha mengingatkan, setiap informasi mengenai korban dan kejadian perundungan harus dijaga kerahasiaannya untuk melindungi korban. Pembina Agen Anti Perundungan, Erlince Tomasui, S.Pd., optimistis kegiatan tersebut mendorong anggota menjalankan perannya secara aktif.

Ia berharap Agen Anti Perundungan menjadi pelopor terciptanya budaya sekolah yang aman, peduli, saling menghargai, dan bebas perundungan. Sementara itu, Ketua Agen Anti Perundungan, Mitha Dunggun, menyambut positif kegiatan tersebut sebagai langkah nyata membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman.

“Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kepedulian, empati, dan rasa aman,” kata Mitha. Ia menegaskan, upaya mencegah perundungan membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah, bukan hanya korban maupun pelaku.

“Bersama kita ciptakan sekolah yang aman, peduli, dan bebas perundungan,” tegas Mitha. (Radja)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....