Ferdinandus Jehalut Soroti Tantangan Literasi Digital
- 11 Mei 2026 08:17 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Tantangan literasi digital menjadi isu yang semakin nyata di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial tidak selalu diikuti kemampuan masyarakat untuk memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan menyaring informasi secara kritis.
Hal itu disampaikan Ferdinandus Jehalut, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana sekaligus Direktur Ranaka Institute, dalam Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang pada Kamis, 07 Mei 2026.
Menurut Ferdinandus, tantangan literasi digital yang paling lazim ditemui saat ini berkaitan dengan kesenjangan keterampilan masyarakat dalam mengevaluasi informasi. Banyak orang sudah mampu mengakses informasi dengan cepat, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang memadai untuk menilai apakah informasi tersebut akurat, relevan, dan dapat dipercaya.
Ia menyoroti dominasi percakapan tertutup di ruang digital, misalnya melalui grup WhatsApp atau grup Facebook. Dalam ruang komunikasi semacam itu, informasi sering beredar tanpa proses verifikasi yang memadai.
“Yang paling sering terjadi, orang percaya pada informasi bukan karena isinya sudah diperiksa, tetapi karena yang mengirim adalah orang-orang terdekat. Ada semacam trust source credibility, ketika kedekatan personal justru lebih menentukan daripada proses verifikasi,” ujarnya.
Menurut Ferdinandus, kondisi tersebut merupakan bagian dari kesenjangan digital yang masih nyata di masyarakat. Ia menegaskan, kesenjangan digital bukan semata-mata soal keterbatasan akses terhadap perangkat atau teknologi, melainkan juga menyangkut kesenjangan kognitif.
“Kesenjangan kognitif ini berkaitan dengan kemampuan seseorang menggunakan perangkat digital secara cermat, termasuk kemampuan untuk melakukan evaluasi informasi. Jadi, persoalannya bukan hanya apakah orang bisa mengakses teknologi, tetapi apakah mereka mampu memahami, menilai, dan menyaring informasi dengan baik,” jelasnya.
Ferdinandus menambahkan, tantangan terbesar generasi muda dalam membangun kebiasaan komunikasi digital yang sehat sangat berkaitan dengan pola kebiasaan dalam mengonsumsi informasi.
Menurutnya, media sosial telah mempercepat proses sosialisasi politik, yakni proses belajar mengenai nilai, sikap, dan pandangan politik melalui lingkungan media digital.
“Anak muda sekarang banyak belajar isu sosial dan politik dari potongan konten, influencer, atau percakapan komunitas yang belum tentu berbobot. Di situ tantangannya, karena sering kali informasi diterima secara cepat tetapi tidak ditelusuri lebih mendalam,” ujarnya.
Ia menilai, kondisi tersebut di satu sisi dapat meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap berbagai persoalan publik. Namun di sisi lain, hal itu juga membuat mereka lebih rentan diarahkan oleh framing tertentu dan terpapar informasi parsial yang tidak utuh.
Selain itu, Ferdinandus menyoroti adanya perubahan dari sisi kultural. Ia menjelaskan, ruang digital saat ini mendorong terjadinya hibridasi budaya, yakni percampuran antara budaya lokal dan budaya global.
“Percampuran ini bisa memperkaya wawasan generasi muda, tetapi juga dapat memicu kebingungan atau bahkan konflik identitas. Sebab, sebagai masyarakat jejaring, kita kini menjadi bagian dari komunitas global yang saling terhubung,” jelasnya.
Menurut Ferdinandus, tantangan tersebut semakin besar karena generasi muda juga menghadapi tekanan sosial untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru dan tetap aktif di media sosial.
“Dorongan untuk selalu update sering kali membuat proses berpikir menjadi lebih singkat. Akibatnya, respons terhadap suatu isu lebih cepat muncul daripada upaya untuk memahami persoalan secara utuh,” katanya.
Di akhir perbincangan, Ferdinandus mengingatkan bahwa tantangan literasi digital hari ini bukan hanya soal kemampuan mengakses teknologi, melainkan juga kemampuan membangun kebiasaan berpikir kritis, menelusuri informasi secara lebih mendalam, dan menjaga keseimbangan dalam berkomunikasi di ruang digital. Menurutnya, kebiasaan itulah yang akan menentukan kualitas komunikasi publik di tengah masyarakat yang semakin terhubung. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....