Tenun Ikat NTT Warisan Budaya Bernilai Ekonomi
- 29 Jan 2026 18:44 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang: Pelaku UMKM tenun ikat memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal tersebut disampaikan Dr. Marius Masri, S.E., M.Si, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, saat menjadi narasumber dalam dialog Kupang Menyapa di Pro 1 RRI Kupang, yang membahas peran UMKM tenun ikat dalam pelestarian budaya dan penguatan ekonomi.
Menurut Dr. Marius, tenun ikat bukan sekadar lembaran kain, melainkan identitas budaya yang sarat nilai historis dan sosial. Setiap motif dan warna yang dihasilkan memiliki makna serta cerita khas daerah asalnya, sehingga keberadaannya menjadi penanda jati diri masyarakat NTT. Karena itu, tenun ikat harus terus dijaga agar tidak tergerus oleh arus modernisasi.
Ia menegaskan bahwa pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) atau UMKM merupakan garda terdepan dalam mewariskan nilai-nilai budaya tersebut. Melalui kreativitas dan keterampilan yang dimiliki, para pelaku UMKM mampu mengolah tenun ikat, termasuk sisa atau potongan kain, menjadi produk bernilai seni dan bernilai ekonomi, sehingga tidak ada bagian yang terbuang sia-sia.
Dr. Marius menjelaskan, pemanfaatan kain sisa atau limbah tenun menjadi produk baru merupakan bentuk peningkatan nilai tambah ekonomi. Proses ini memperkuat keterhubungan dari hulu hingga hilir, mulai dari penenun, perajin, hingga pemasaran produk akhir. Dengan demikian, tenun ikat tidak hanya berfungsi sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai penggerak roda ekonomi masyarakat.
Ia juga mengapresiasi peran pemerintah yang dinilai tidak tinggal diam dalam mendukung pengembangan tenun ikat. Berbagai upaya pembinaan, peningkatan keterampilan, hingga pembukaan akses pasar terus dilakukan, termasuk melalui pembangunan pusat pemasaran seperti NTT Mart. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan produk tenun ikat tetap memiliki pasar dan mampu bersaing.
Namun demikian, Dr. Marius menilai tantangan terbesar saat ini adalah keberlanjutan dan keterhubungan antara produksi dan pasar. Menurutnya, pengembangan tenun ikat tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dalam satu ekosistem industri yang berkelanjutan, terutama dengan mengaitkannya pada sektor pariwisata yang tengah berkembang di NTT.
Ia berharap ke depan tenun ikat NTT tidak lagi dipandang sebatas kerajinan, melainkan sebagai sebuah industri kreatif yang kuat. Dengan dukungan pemerintah, swasta, akademisi, dan pelaku UMKM, industri tenun ikat diyakini mampu terus tumbuh, melestarikan budaya, serta memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....