Peradaban Nilai Leluhur dan Identitas Budaya Adat Istiadat Wajib Dilestarikan
- 29 Jul 2026 19:29 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Sumba - Pemerhati Budaya Marapu meminta masyarakat Sumba Hormati peradaban budaya dan adat istiadat. Hal tersebut disampaikan pemuda asal kecamatan Laboya pada acara kegiatan Workshop anggota masyarakat adat dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumba Barat yang saat itu mengikuti Workshop Kebudayaan Penghayat Kepercayaan Marapu yang mengusung tema "Umma Marapu, Belis, Kehormatan, Nilai Leluhur Orang Sumba serta Identitas Budaya".
Kegiatan tersebut berlangsung di Waikabubak, 28 Juli 2026. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pengukuhan secara budaya terhadap pasangan yang disahkan melalui adat Sumba Barat berdasarkan aliran kepercayaan Marapu sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi leluhur.
Pemerhati budaya dan adat istiadat, Jonatanathan Agu Ate, yang juga merupakan tokoh muda Sumba Barat, mengatakan rumah adat dan belis merupakan identitas utama masyarakat Sumba. Menurutnya, kedua unsur tersebut tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kehidupan sosial masyarakat adat yang harus terus dijaga.
Dalam wawancara bersama RRI di sela-sela kegiatan, Jonatanathan menilai masyarakat Sumba Barat saat ini tengah menghadapi krisis nilai peradaban. Ia menyebut masyarakat lebih banyak membanggakan simbol-simbol adat dan interaksi sosial, namun mulai melupakan makna serta nilai luhur yang terkandung di balik tradisi tersebut. Padahal, menurutnya, pemahaman terhadap nilai adat menjadi dasar penting dalam menjaga marwah budaya Sumba.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh perjalanan sejarah yang panjang. Banyak tokoh adat yang dahulu menjadi panutan masyarakat berkurang perannya akibat berbagai perubahan sejak masa penjajahan hingga pemerintahan modern. Akibatnya, regenerasi kepemimpinan adat tidak berjalan optimal dan lembaga adat mengalami pelemahan sehingga sebagian nilai budaya mulai memudar.
Jonatanathan juga menyinggung perjalanan masyarakat penghayat Marapu yang pada masa lalu harus menyesuaikan identitas keagamaannya dengan kebijakan negara. Meski secara administrasi memilih agama resmi, menurutnya banyak masyarakat adat yang tetap mempertahankan keyakinan dan nilai-nilai Marapu dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut turut memengaruhi keseimbangan kehidupan sosial dan keberlangsungan lembaga adat di tengah masyarakat.
Melalui workshop ini, Jonatanathan berharap kebangkitan masyarakat adat dapat terus diperkuat dengan pendampingan, dialog, dan penelitian terhadap nilai-nilai luhur warisan leluhur. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menggali, memahami, serta melestarikan nilai adat agar identitas budaya Sumba Barat tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (Jl)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....