Dompet Dhuafa Perkuat Layanan Kesehatan Warga Terdampak Gempa Flores

  • 03 Okt 2026 18:21 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Gempa yang mengguncang sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga menyulitkan warga terdampak untuk mendapatkan akses layanan kesehatan. Kondisi tersebut mendorong Dompet Dhuafa NTT bergerak cepat dengan mengerahkan tim kesehatan ke sejumlah wilayah terdampak.

Kepala LKC Dompet Dhuafa NTT, Ummi K. Muhammad, mengatakan respons dilakukan segera setelah gempa terjadi. Langkah pertama yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memetakan wilayah yang paling membutuhkan bantuan tenaga medis.

“Yang pertama kami koordinasi dulu dengan Dinas Kesehatan untuk mengetahui lokasi mana yang paling membutuhkan dan kebutuhan tenaga medisnya seperti apa,” ujar Ummi dalam dialog Kupang Menyapa Pro 1 RRI Kupang, Kamis 1 Oktober 2026. Dari hasil koordinasi tersebut, Dompet Dhuafa memetakan tiga wilayah prioritas, yakni Manggarai Timur, Nagekeo, dan Ngada. Respons lapangan dimulai pada 15 September.

Di Lambaleda Utara, tepatnya Desa Satarkampas, seorang staf Dompet Dhuafa yang memang bertugas di wilayah tersebut langsung memberikan pertolongan pertama kepada warga dengan peralatan yang tersedia. Kondisi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut cukup parah akibat gempa.

Puskesmas terdampak kerusakan sehingga warga harus mendapatkan pelayanan di tenda-tenda darurat yang didirikan oleh BPBD. Pada 17 September, Dompet Dhuafa kembali mengirimkan tim dari Jakarta dan Kupang.

Tim tersebut terdiri dari dokter, perawat, dan bidan untuk memperkuat layanan kesehatan di Lambaleda Utara. Dua hari kemudian, tim kedua diberangkatkan ke Nagekeo dengan komposisi dokter, perawat, dan tenaga kesehatan masyarakat.

Layanan kemudian diperluas ke Kabupaten Ngada. Berbeda dengan pelayanan kesehatan yang hanya berpusat di posko, tim Dompet Dhuafa memilih menggunakan pola layanan bergerak atau mobile health service.

Cara ini dilakukan agar warga yang tinggal jauh dari pos pelayanan kesehatan tetap mendapatkan pertolongan. Ummi menjelaskan, hampir di setiap wilayah terdampak sudah tersedia pos pelayanan yang dibangun pemerintah dan didukung tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan.

Karena itu, Dompet Dhuafa berupaya mengisi kebutuhan yang belum terlayani agar bantuan tidak menumpuk di satu lokasi. “Kami mobile, mendekatkan pelayanan langsung ke titik-titik pengungsi yang mungkin mereka agak kesulitan untuk mengakses ke pos kesehatan,” katanya.

Koordinasi dilakukan setiap hari dengan Dinas Kesehatan untuk menentukan titik yang membutuhkan layanan. Langkah tersebut juga bertujuan mencegah terjadinya tumpang tindih bantuan antarorganisasi.

Tantangan terbesar bukan lagi kondisi jalan, melainkan jarak menuju lokasi pengungsian. Untuk mencapai sejumlah titik, tim bahkan harus menempuh perjalanan selama tiga hingga empat jam.

Dari posko utama di Desa Satarkampas, Lambaleda Utara, tim bergerak menuju berbagai lokasi, termasuk Kecamatan Elar. Setelah memberikan pelayanan, tim terkadang baru kembali ke posko pada malam hari.

“Kadang nanti kembali lagi sampai ke posko di Satarkampas, itu mungkin bisa jam 10 malam, saking jauhnya,” kata Ummi. Menariknya, Kecamatan Elar justru secara geografis lebih dekat dengan Kecamatan Riung di Kabupaten Ngada dibandingkan pusat wilayah Manggarai Timur. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam penyaluran layanan kesehatan.

Selain memberikan pelayanan medis, Dompet Dhuafa juga menaruh perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas. Salah satu program yang dijalankan adalah membuka dapur Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak (PMBA).

Program ini menyasar bayi dan balita, sekaligus memperhatikan kebutuhan gizi ibu hamil. Di lokasi pengungsian, orang tua yang tinggal di tenda dilibatkan dalam proses penyediaan makanan.

Dompet Dhuafa juga menggandeng tenaga gizi dari puskesmas setempat untuk memastikan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran. Intervensi dapur PMBA dilakukan selama 14 hari.

Dalam salah satu lokasi yang telah mendapatkan intervensi, tercatat 30 balita dan empat ibu hamil menjadi sasaran program. Dari pemantauan tersebut, ditemukan dua anak mengalami penurunan berat badan dibandingkan kondisi awal.

Sementara itu, satu ibu hamil diketahui mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Temuan tersebut menjadi perhatian karena kondisi darurat seperti gempa dapat memperburuk persoalan pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak yang tinggal di pengungsian.

Menurut Ummi, makanan bantuan yang bersifat siap saji memang membantu memenuhi kebutuhan pangan dalam kondisi darurat. Namun, pemenuhan kebutuhan kalori saja belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Karena itu, pemenuhan gizi bayi, balita, dan ibu hamil menjadi bagian penting dalam respons pascabencana. Kelompok rentan lainnya yang mendapat perhatian adalah lansia dan warga dengan penyakit kronis.

Di lapangan, tim menemukan sejumlah lansia dengan riwayat hipertensi dan diabetes melitus. Selain itu, terdapat pula pasien tuberkulosis (TBC) yang mengalami kendala dalam melanjutkan pengobatan.

Kondisi bencana membuat sebagian pasien kesulitan mengakses fasilitas kesehatan. Jarak yang jauh dan terbatasnya mobilitas menyebabkan beberapa pasien tidak lagi mengonsumsi obat secara rutin.

Padahal, pasien dengan penyakit kronis maupun TBC membutuhkan pengobatan yang berkelanjutan. “Dengan kondisi seperti itu, mungkin karena akses juga ke fasilitas kesehatan yang cukup jauh, mereka juga terbatas aksesnya ke sana. Sehingga memang beberapa tidak melanjutkan obat,” ujar Ummi.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa respons bencana tidak berhenti pada penanganan luka akibat gempa. Setelah fase darurat berlalu, keberlanjutan pengobatan penyakit kronis, pemenuhan gizi anak, kesehatan ibu hamil, serta perlindungan kelompok rentan menjadi pekerjaan penting yang harus terus dilakukan.

Bagi tim Dompet Dhuafa NTT, layanan kesehatan pascabencana bukan sekadar mendatangi lokasi terdampak, tetapi memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan—termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Di tengah luasnya wilayah Flores dan tantangan jarak, pola layanan bergerak menjadi salah satu cara untuk menjangkau warga yang selama ini berada di titik paling sulit mendapatkan akses layanan kesehatan. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....