Sebanyak 25 Puskesmas Dipasok Bantuan Obat dan Alat Kesehatan Pascagempa Flores
- 01 Okt 2026 17:12 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak gempa Flores terus dilakukan. Tidak hanya mengerahkan tenaga medis ke lokasi bencana, dukungan juga diberikan kepada fasilitas kesehatan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur bersama berbagai pihak menyalurkan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan ke 25 puskesmas di Manggarai Tengah. Ketua Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Koordinator Bencana Gempa Flores 2026, dr. Yuliana Imelda Ora Adja, M.Biomed., Sp.N, mengatakan bantuan tersebut diberikan untuk memperkuat pelayanan kesehatan di tengah kondisi fasilitas yang terdampak gempa.
Bantuan tersebut didukung oleh Kitabisa.com serta jaringan IDI dari berbagai daerah di Indonesia. "Kemarin itu bersama Kitabisa kami membantu 25 puskesmas yang ada di Manggarai Tengah dengan memberikan obat-obatan yang sangat dibutuhkan saat ini," ujar dr. Yuliana dalam dialog Kupang Menyapa, Kamis, 1 Oktober 2026.
Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa obat-obatan. Sejumlah peralatan medis juga diberikan untuk mendukung tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Peralatan tersebut antara lain termometer, tensimeter, USG Doppler dan alat nebulizer atau alat untuk membantu terapi melalui penguapan. Bantuan juga mencakup regulator oksigen, kursi roda dan tongkat.
Selain kebutuhan medis, kebutuhan dasar masyarakat terdampak juga menjadi perhatian. Tim turut menyiapkan pembalut dan popok bagi warga yang membutuhkan. Menurut dr. Yuliana, seluruh bantuan tersebut kemudian didistribusikan langsung ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan.
Penyaluran bantuan tidak berhenti di 25 puskesmas di Manggarai Tengah. Tim juga memberikan dukungan kepada sejumlah fasilitas kesehatan lain yang terdampak, termasuk satu pustu di Manggarai Barat, puskesmas di Reo serta puskesmas di Dampek.
Distribusi langsung dilakukan agar bantuan dapat segera digunakan oleh tenaga kesehatan di lapangan. Hal tersebut menjadi penting mengingat kebutuhan pelayanan kesehatan justru meningkat setelah bencana.
Selain korban luka akibat gempa, tenaga kesehatan mulai menghadapi persoalan kesehatan lain di lokasi pengungsian. Keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare mulai ditemukan di tengah kondisi warga yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Kondisi sanitasi yang belum sepenuhnya memadai menjadi salah satu persoalan yang harus diperhatikan dalam masa pemulihan. Kebutuhan fasilitas kesehatan juga masih ditemukan di wilayah Nagekeo.
Menurut dr. Yuliana, suhu panas menjadi salah satu persoalan yang dihadapi fasilitas kesehatan di daerah tersebut. Sejumlah ruangan penting seperti ICU, NICU dan ruang operasi membutuhkan pengendalian suhu yang lebih baik.
IDI NTT kemudian menyiapkan air cooler untuk dikirim ke Nagekeo. Namun, kebutuhan di lapangan sebenarnya lebih besar.
Fasilitas kesehatan membutuhkan standing air conditioner, sementara biaya dan akses transportasi menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri. Untuk membantu distribusi peralatan tersebut, IDI NTT telah mengirimkan surat kepada BNPB.
Bencana tidak hanya menghancurkan bangunan. Peralatan kesehatan yang digunakan untuk memberikan pelayanan juga dapat mengalami kerusakan.
Karena itu, pemulihan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan. Kehadiran dokter dan perawat di lokasi bencana harus diimbangi dengan ketersediaan obat, alat kesehatan dan fasilitas pendukung.
Dukungan terhadap 25 puskesmas di Manggarai Tengah menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Di tengah proses pemulihan, fasilitas kesehatan di wilayah terdampak masih membutuhkan dukungan berkelanjutan agar mampu kembali memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat.
Gempa mungkin telah berlalu, tetapi pekerjaan untuk memulihkan sistem pelayanan kesehatan masih terus berlangsung. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....