Childfree dan Hyper-Independence, Pilihan atau Tekanan?
- 09 Agt 2026 19:31 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Diskusi mengenai posisi perempuan di era modern sering kali memicu perdebatan hangat, terutama terkait pilihan hidup yang tidak konvensional hingga anggapan bahwa perempuan hebat harus bisa melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan siapapun. Menanggapi hal tersebut, psikolog Maria Regina D. Fallo, S.Psi. membedah batas kebebasan personal serta bahaya jebakan kemandirian ekstrem (hyper-independence) dalam siaran Obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang pada. Kamis, 6 Agustus 2026.
Dalam sesi tanya-jawab dengan pendengar mengenai keputusan untuk tidak memiliki anak (childfree) karena pertimbangan kesiapan mental atau rasa takut, Regina menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak otonom setiap individu. "Apakah memilih 'childfree' itu merdeka? Ya, selama keputusan tersebut diambil secara mandiri atas dasar pertimbangan personal tanpa paksaan orang lain, dan ia siap mempertanggungjawabkan konsekuensinya," ujar Regina.
Ia menambahkan bahwa standar kebahagiaan setiap orang berbeda. Pandangan konservatif yang mengabaikan kesiapan psikologis calon ibu kerap memicu trauma mental atau rasa takut gagal mendidik anak. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah apa pilihan hidupnya, melainkan keberanian menjalani pilihan tersebut secara bertanggung jawab.
Di sisi lain, Regina memberikan peringatan keras terhadap salah kaprah memaknai kata "mandiri". Banyak perempuan terjebak pada anggapan bahwa menjadi perempuan merdeka berarti tidak boleh bergantung atau meminta bantuan kepada siapapun.
| Baca juga: Buah Kiwi dan Manfaatnya |
"Mengartikan kebebasan dengan harus selalu mandiri dan menolak bantuan justru membentuk batasan baru yang ekstrem, yaitu 'hyper-independence'. Ini bisa membuat seseorang menjadi tertutup, terlalu membebani diri, hingga akhirnya pekerjaan dan kesehatan mentalnya terbengkalai," kata Regina.
Regina menegaskan bahwa meminta bantuan kepada pasangan, keluarga, maupun sesama bukan tanda kelemahan, melainkan wujud kesadaran atas kapasitas dan potensi diri.
"Hidup ini milik kalian sendiri, bukan utang terhadap ekspektasi publik. Berhentilah meminta izin dari orang lain untuk menjadi diri sendiri, dan mulailah merangkul serta menguatkan sesama perempuan (women support women)," tutur Regina. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....